Daftar Yuuk…

Layanan Online

Kepegawaian

PERATURAN KETUA YAYASAN BINA WIRASWASTA SURAKARTA

NOMOR009/YBWS/KEP/II/2015

TENTANG

KEPEGAWAIAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KETUA YAYASAN BINA WIRASWASTA SURAKARTA,

KETENTUAN UMUMBAB I

                                                                                                                   Pasal 1        

PENGERTIAN

Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:

  1. Yayasan adalah Yayasan Bina Wiraswasta sebagaimana yang dimaksud dalam akte pendirian dan perubahan-perubahannya yang telah disahkan.
  2. STIE SURAKARTA adalah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Surakarta berada di bawah naungan Yayasan Bina Wiraswasta.
  3. Ketua adalah Ketua STIE Surakrta.
  4. Senat adalah Senat Akademik STIE Surakarta.
  5. Kementrian  adalah  Kementrian  Riset  Teknologi  dan  Pendidikan  Tinggi (Ristekdikti)                   Republik Indonesia atau Kementrian yang berwenang sesuai nomenklatur yang dtetapkan pemerintah.
  6. Pegawai adalah setiap orang yang terikat secara formal atau yang secara administratif terdaftar sebagai Pegawai yang diangkat dan diberhentikan oleh Yayasan, yang ditempatkan di Yayasan, dan diserahi tugas baik sebagai tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan.
  7. Pegawai dengan masa percobaan adalah Pegawai baru yang masih dalam masa percobaan ditetapkan dengan surat keputusan sebagai calon Pegawai tetap dengan menjalani masa percobaan dengan batasan sesuai ketentuan yang berlaku.
  8. Pegawai tetap adalah Pegawai yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, diterima, dipekerjakan, dan mendapat  imbal jasa serta terikat dalam hubungan kerja dengan Yayasan sampai batas purna tugas, diberhentikan dan diangkat oleh Yayasan, dan dapat ditugaskan pada bidang akademik atau nonakademik secara penuh (full time) dengan mendapat penghasilan tetap berupa gaji, dan tunjangan serta penghasilan lain yang menjadi haknya, serta berhak mendapat kesempatan untuk diberikan kenaikan pangkat dan kenaikan gaji berkala sesuai dengan prestasi kerja.
  9. Pegawai  tidak  tetap/Pegawai  dengan  waktu  tertentu  adalah  Pegawai  yang  terikat  dalam hubungan kerja secara terbatas dengan Yayasan atas dasar kontrak/perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu.
  10. Tenaga pendidikadalah Pegawai yang diberi tugas sebagai  tenaga fungsional  yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan tridharma Perguruan Tinggi sesuai dengan bidang ilmunya. Selanjutnya disebut dosen.
  11. Tenaga kependidikanadalah  Pegawai  yang  ditempatkan  sebagai  tenaga  pendukung kegiatan akademik yang terdiri  atas tenaga administrasi  dan  tenaga fugsional,  serta  tenaga  pelaksana pekerjaan di luar bidang akademik. selanjutnya Tenaga kependidikan.
  12. Dosen tetap adalah Dosen yang terikat dengan Yayasan sebagai Pegawai tetap.
  13. Dosen pegawai negeri sipil (PNS) adalah Dosen pegawai negeri sipil yang ditempatkan oleh Kopertis di lingkungan STIE Surakarta secara penuh, dengan mendapat penghasilan tetap dari Pemerintah berupa gaji dan tunjangan serta penghasilan lain yang menjadi haknya.
  14. Dosen kontrak adalah Dosen yang dipekerjakan oleh Yayasan dengan perjanjian kerja waktu tertentu.
  15. Dosen tidak tetap adalah Dosen tidak tetap yang diangkat dan diberhentikan oleh STIE Surakarta untuk  mengampu mata kuliah di  STIE Surakarta sesuai  kebutuhan,  yang  bersumber dari Perguruan Tinggi Negeri/Swasta/Praktisi dengan memperoleh honorarium sesuai ketentuan.
  16. Dosen tamu adalah seseorang yang diundang oleh STIE Surakarta untuk memberikan kuliah umum kepada Mahasiswa STIE Surakarta sesuai kebutuhan yang bersumber dari Perguruan Tinggi/Praktisi dan memperoleh honorarium sesuai ketentuan.
  17. Pangkat/golongan adalah kedudukan yang menunjukkan tingkat Pegawai tetap dalam rangkaian susunan kepegawaian dan digunakan sebagai dasar penggajian.
  18. Jabatan struktural adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, wewenang, tanggung jawab, dan hak Pegawai dalam rangka memimpin satuan unit kerja yang ditetapkan dalam struktur organisasi.
  19. Jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak  seorang  dosen  yang  melaksanakan tugas  pendidikan  dan  pengajaran,  penelitian, sertapengabdian kepada masyarakat.
  20. Ahli waris adalah anggota keluarga yang ditunjuk dan diberitahukan kepada Yayasan oleh Pegawai yang bersangkutan, untuk menerima semua hak yang seharusnya diterima bila Pegawai meninggal dunia.
  21. Pengakhiran hubungan kerja (PHK) adalah pengakhiran hubungan kerja antara Pegawai dan Yayasan yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban kedua belah pihak yang disebabkan karena alasan-alasan sebagaimana dinyatakan dalam Peraturan Kepegawaian.
  22. Uang pesangon adalah pembayaran berupa uang dari Yayasan kepada Pegawai berdasarkan Peraturan Pemerintah yang berlaku sebagai akibat adanya pemutusan hubungan kerja.
  23. Uang penghargaan masa kerja adalah pembayaran berupa uang sebagai penghargaan dari Yayasan kepada Pegawai berdasarkan Peraturan Pemerintah yang dikaitkan dengan lamanya masa kerja.
  24. Gaji adalah imbal jasa yang diterima oleh Pegawai tetap dan tidak tetap pada setiap akhir bulan yang besarnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Yayasan.
  25. Honorarium adalah sejumlah dana yang diberikan kepada Pegawai tetap dan Pegawai tidak tetap yang besarnya sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Yayasan atau STIE Surakarta.
  26. Tunjangan adalah sejumlah dana yang diberikan kepada Pegawai berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan jabatan tertentu yang besarnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  27. Tunjangan jabatan struktural adalah tunjangan yang diberikan kepada pemegang jabatan struktural yang besarnya sesuai ketentuan yang berlaku.
  28. Tunjangan jabatan fungsional adalah tunjangan yang diberikan kepada Dosen tetap terkait jabatan fungsional yang dimilikinya.
  29. Insentif adalah sejumlah dana yang diberikan kepada Pegawai karena ditugaskan berdasarkan Surat Keputusan untuk melakukan pekerjaan di luar pekerjaan pokoknya yang besarnya ditentukanoleh Yayasan atau STIE Surakarta.

 

 

                                                                                                                   Pasal 2

KEDUDUKAN PERATURAN KEPEGAWAIAN

 

  1. Peraturan  Kepegawaian berkedudukan  sebagai Peraturan Yayasan yang mengatur pembinaan Pegawai yang bertugas baik di lingkungan Yayasan Bina wiraswasta maupun STIE Surakarta.
  2. Peraturan Kepegawaian adalah pemanfaatan dan pendayagunaan Pegawai seoptimal mungkin sejalan dengan visi Peraturan Kepegawaian dibuat dengan maksud agar setiap Pegawai dapat memahami persyaratan kerja dan tata tertib yang berlaku bagi seluruh Pegawai, dan berpedoman kepada Undang-undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
  3. Dengan ditetapkannya Peraturan Kepegawaian ini, diharapkan setiap Pegawai memahami sepenuhnya segala aspek yang terdapat dalam  hubungan kerja antara Pegawai  dengan Yayasan Bina Wiraswasta khususnya mengenai kewajiban dan hak setiap Pegawai, sehingga dapat terwujud keserasian antara peningkatan produktivitas kerja dan kesejahteraan Pegawai.
  4. Bagi setiap Pegawai sangat penting untuk membaca, memahami, menghayati, dan melaksanakan peraturan-peraturan yang berlaku agar dapat dicegah terjadinya pelanggaran yang pada hakekatnya tidak diinginkan baik oleh karyawan maupun Yayasan.

 

                                                                                                                   Pasal 3

TUJUAN PEMBINAAN PEGAWAI

Pembinaan Pegawai Yayasan bertujuan untuk mengatur kelancaran pelaksanaan tugas pelayanan civitas akademika dalam rangka pelaksanaan tridharma Perguruan Tinggi, memperoleh dan memberdayakan Pegawai yang mempunyai semangat pengabdian yang tinggi sesuai dengan visi dan misi Yayasan Bina Wiraswasta  dan STIE Surakarta.

 

                                                                                                                   Pasal 4

AZAS- AZAS PEMBINAAN PEGAWAI

 

  1. Azas manfaat dan misi Yayasan Bina Wiraswasta dan STIE Surakarta
  2. Azas kesadaran Pegawai adalah Pegawai Yayasan Bina Wiraswasta baik yang ditempatkan di lingkungan Yayasan Bina WIraswasta maupun STIE Surakarta, selalu berupaya memelihara dan meningkatkan kualitas diri sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan.
  3. Azas adil adalah memberikan kesempatan pengembangan karier yang sama bagi seluruh Pegawai berdasarkan perpaduan prestasi  kerja dan kepentingan organisasi,  serta peningkatan motivasi Pegawai untuk mencapai prestasi dengan pemberian bimbingan, teladan dan rangsangan.
  4. Azas tepat penempatan adalah penempatan Pegawai pada tugas jabatan yang tepat, sesuai dengan kompetensinya untuk kepentingan Yayasan dan STIE Surakarta.

 

                                                                                                                   Pasal 5

PRINSIP- PRINSIP PEMBINAAN PEGAWAI

  1. Selektif  dalam  penerimaan dan pengembangan karier Pegawai dengan mengutamakan kualitas daripada kuantitas sesuai dengan program dan berdasarkan peraturan Kepegawaian.
  2. Mengutamakan pemberhentian Pegawai karena purna bhakti sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  3. Memberikan hak-hak Pegawai sesuai dengan kewajiban Pegawai berdasarkan status/golongankepegawaian.
  4. Mendayagunakan  Pegawai  untuk  kepentingan  tugas  sesuai  dengan  kemampuan  Pegawai berdasarkan prinsip efisiensi dengan tetap memperhatikan efektivitas.
  5. Meningkatkan  kinerja  dan  pengabdian  Pegawai  dengan  motivasi,  keteladanan,  kesejahteraan, penghargaan, dan hukuman yang tepat dan proporsional.

                                                                                                                   Pasal 6

STATUS PEGAWAI

 

  1. Pegawai Yayasan berdasarkan status kepegawaian terdiri atas:
    1. Pegawai tetap;
    2. Pegawai tidak tetap, yang terdiri atas:

1)   Pegawai dalam masa percobaan; dan

2)   Pegawai dengan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau Pegawai kontrak.

  1. Pegawai Yayasan berdasarkan fungsinya terdiri atas:
    1. Dosen, terdiri atas:

1)     Dosen tetap;

2)     Dosen pegawai negeri sipil (PNSD);

3)     Dosen kontrak; dan

4)     Dosen tidak tetap

  1. Tenaga kependidikan, terdiri atas:

1)     Pegawai administrasi umum;

2)     Pegawai keuangan;

3)     Pegawai administrasi akademik;

4)     Pegawai pustakawan;

5)     Pegawai laboran;

6)     Pegawai Keamanan; dan

7)     Pegawai Kebersihan

  1. Tenaga kependidikan dapat menjadi Dosen dengan persyaratan sebagai berikut:
    1. pegawai tetap;
    2. memiliki ijazah S2 pada disiplin ilmu yang dibutuhkan STIE Surakarta;
    3. memiliki penilaian kinerja baik;
    4. diusulkan oleh Ketua; dan
    5. lolos seleksi penerimaan Dosen.

 

 

                                                                                                                   Pasal 7

TANGGUNG JAWAB YAYASAN

Yayasan memiliki tanggung jawab:

  1. melakukan pembinaan Pegawai;
  2. memberikan imbal jasa yang layak sesuai dengan jasa yang telah diberikan Pegawai kepada ;
  3. memperhatikan dan mengusahakan kesejahteraan Pegawai; dan
  4. menempatkan Pegawai sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya yang disesuaikan dengankebutuhan Yayasan.

 

 

 

                                                                                                                   Pasal 8

TANGGUNG JAWAB PEGAWAI

 

Pegawai Yayasan memiliki tanggung jawab:

  1. melaksanakan perintah/pekerjaan yang layak sesuai dengan uraian pekerjaan serta tugas-tugas lainnya sesuai instruksi tertulis maupun lisan dari atasan Pegawai untuk kepentingan Yayasan;
  2. mencapai suatu prestasi kerja yang telah ditetapkan oleh Yayasan;
  3. mentaati Peraturan Kepegawaian, ketentuan internal, dan/atau ketentuan perundang-undangan yang berlaku bagi Pegawai;
  4. memberikan keterangan yang lengkap dan benar mengenai pekerjaan kepada Yayasan dalam hubungan dengan tugasnya;
  5. menyimpan dan menjaga kerahasiaan semua keterangan yang didapat karena jabatannya maupun pergaulannya di lingkungan Yayasan;
  6. menjaga barang-barang  milik  Yayasan  yang  digunakan  atau  dipercayakan  kepadanya  sesuai ketentuan Yayasan;
  7. mengemukakan saran yang bermanfaat bagi Yayasan Bina Wiraswasta Surakarta kepada atasan ataupun melalui saluran lain yang ditentukan;
  8. menjaga nama baik dan citra Yayasan Bina Wiraswasta Surakarta dan STIE Surakarta;
  9. menjaga suasana kerja yang tertib, menjaga kebersihan, menjalankan etika kepegawaian serta norma-norma susila dalam tugas dan pekerjaan;
  10. menghindari tindakan atau ucapan yang bersifat menghina, celaan, dan/atau mengancam atasan atau sesama Pegawai;
  11. menghormati sesama Pegawai dan atasan langsung maupun tidak langsung, termasuk tamu yangdijumpai di tempat kerja;
  12. berpakaian yang sopan dan rapi sesuai dengan ketentuan yang berlaku; dan
  13. memberikan data yang sebenarnya guna melengkapi keterangan mengenai dirinya dan melaporkan segala perubahan kepada Bagian Kepegawaian. Dalam hal Pegawai tidak memberikan keterangan yang sebenarnya maupun perubahannya, maka Yayasan tidak bertanggung jawab atas kerugian-kerugian yang dialami Pegawai akibat hal tersebut, sebaliknya bila mengakibatkan kerugian bagi Yayasan maka sanksi dapat dikenakan kepada yang bersangkutan.

 

                                                                                                                   Pasal 9

STRUKTUR, PENANGGUNG JAWAB,

DAN PERUBAHAN PERATURAN KEPEGAWAIAN

  1. Tatanan pengaturan kepegawaian adalah sebagai berikut:
    1. Peraturan  Kepegawaian yang berisi  himpunan ketentuan untuk mengatur penyelenggaraan hubungan kerja antara Pegawai dan Yayasan;
    2. ketentuan  Yayasan  sebagai  pelaksanaan  Peraturan  Kepegawaian  yang  mengacu  pada Peraturan Kepegawaian serta ketentuan perundang-undangan;
    3. Peraturan Ketua STIE Surakarta yang mengacu dan tunduk kepada Peraturan Kepegawaian dan/atau ketentuan Yayasan; dan
    4. ketentuan Ketua STIE Surakarta yang disusun sesuai dengan kebutuhan dan dapat diubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan lokasi kegiatan, struktur organisasi, bentuk kegiatan usaha, dan kondisi sumber daya manusia yang ada;
    5. Penanggung jawab Peraturan Kepegawaian adalah:
      1. Yayasan dan Ketua STIE Surakarta yang bertanggung jawab terhadap perubahan dan penyebaran Peraturan Kepegawaian; dan
      2. Yayasan dan Ketua STIE Surakarta yang bertanggung jawab terhadap pengawasan pelaksanaan Peraturan Kepegawaian terhadap pokok-pokok kebijakan Yayasan dan ketentuan perundang-undangan, serta terlaksananya petunjuk-petunjuk pelaksanaan terhadap Peraturan Kepegawaian;
      3. Perubahan Peraturan Kepegawaian sah apabila telah ditetapkan oleh Yayasan;
      4. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perubahan Peraturan Kepegawaian diatur dengan Statuta STIE Surakarta dan/atau keputusan Yayasan.

                                                                                                                Pasal 10

KETENTUAN UMUM MENGENAI IMBAL JASA

  1. Yayasan memungut pajak penghasilan terhadap imbal jasa yang diberikan dalam bentuk uang kepada Pegawai sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
  2. Yayasan menyetorkan pungutan pajak penghasilan seperti dimaksud ayat 1 (satu) kepada Kantor Kas Perbendaharaan Negara (KKPN) atas nama Pegawai yang bersangkutan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
  3. Yayasan tidak membayarkan gaji apabila Pegawai yang bersangkutan tidak melakukan pekerjaan. Pengecualian pada hal ini dapat dilakukan dengan mengacu pada ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.
  4. Pembayaran gaji dilakukan setiap akhir bulan setelah Pegawai melaksanakan pekerjaannya, melaluitransfer kepada bank yang ditunjuk Yayasan.
  5. Terhadap Pegawai baru yang mulai bekerja tidak di awal bulan, pembayaran gaji bulan pertama dihitung secara proporsional dari jumlah hari kerja pada bulan berjalan.
  6. Yayasan berhak memotong gaji Pegawai secara proporsional sesuai jumlah hari izin meninggalkan pekerjaan, mangkir, dan/atau hal-hal lain berdasarkan ketentuan Yayasan.

 

 

BAB II

PENERIMAAN PEGAWAI

                                                                                                                Pasal 11

  1. Yayasan menetapkan penerimaan, pengangkatan, dan pemberhentian Pegawai dengan mempertimbangkan usul Ketua STIE Surakarta;
  2. Penerimaan Pegawai didasarkan atas kebutuhan tenaga kerja dan melalui proses seleksi dengan memenuhi ketentuan dan persyaratan yang berlaku;
  3. Calon Pegawai yang dinyatakan lulus seleksi menandatangani surat perjanjian kerja;

 

 

                                                                                                                Pasal 12

PERSYARATAN PENERIMAAN PEGAWAI

 

  1. Persyaratan penerimaan Pegawai terdiri atas persyaratan umum dan persyaratan administrasi.
  2. Persyaratan umum seperti dimaksud ayat 1 (satu) meliputi:
    1. warga negara Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
    2. tidak pernah dipidana dengan pidana tindak kejahatan dan/atau penjara berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap;
    3. tidak pernah diberhentikan dengan tidak hormat baik sebagai PNS maupun pegawai swasta;
    4. bilamana dinyatakan diterima sebagai Pegawai Yayasan, bersedia menandatangani surat pernyataaan tidak ada hubungan ikatan kerja dengan instansi lain atau bilamana masih bekerja, bersedia untuk memutuskan hubungan kerja yang dibuktikan dengan Surat Keterangan yang sah; dan
    5. Persyaratan administrasi seperti dimaksud ayat 1 (satu) meliputi:
      1. daftar riwayat hidup;
      2. salinan Kartu Tanda Penduduk;
      3. salinan surat referensi kerja bagi yang pernah bekerja;
      4. salinan ijazah dan/atau transkrip akademik terakhir yang mendapat legalisasi;
      5. salinan sertifikat penunjang lainnya; dan
      6. pas foto berwarna ukuran 4 x 6 cm.
      7. Ijazah sebagaimana dimaksud ayat 2 (dua) huruf d adalah yang ditetapkan sederajat dengan ijazahatau gelar yang dikeluarkan oleh sekolah/perguruan tinggi yang terakreditasi.
      8. Khusus bagi lulusan S2/S3 dari luar negeri, ijazah sebagaimana dimaksud ayat 2 (dua) huruf d harusmendapat legalisasi dari Kementrian yang berwenang.
      9. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan penerimaan Pegawai diatur dengan keputusan Ketua Yayasan.

                                                                                                                Pasal 13

PENGANGKATAN PEGAWAI

  1. Pegawai yang diterima bekerja di lingkungan STIE Surakarta dapat diusulkan untuk diangkatmenjadi Pegawai tetap.
  2. Pengangkatan Pegawai tetap ditetapkan melalui surat keputusan Yayasan Bina Wiraswasta Surakarta dengan mempertimbangkan usul Ketua STIE Surakarta.
  3. Persyaratan umum pengangkatan Pegawai tetap meliputi:
    1. telah melalui masa kerja sebagai Pegawai dalam masa percobaan atau Pegawai kontrak;
    2. memiliki penilaian kinerja baik selama menjalani masa kerja sebagaimana dimaksud ayat 3 (tiga) huruf a;
    3. belum pernah menjadi Pegawai tetap Yayasan; dan
    4. bukan suami atau istri dari Pegawai tetap.

 

 

 

 

 

                                                                                                                Pasal 14

PENERIMAAN DAN PENGANGKATAN DOSEN

  1. Calon Dosen yang dinyatakan lulus seleksi menandatangai surat perjanjian kerja sebagai Dosen  kontrak untuk 1 (satu) kali masa kontrak dan dapat diperpanjang untuk 1 (satu) kali masa kontrak berikutnya berdasarkan hasil evaluasi pada akhir masa kontrak sebelumnya.
  2. Ketua STIE Surakarta dapat mengusulkan pengangkatan Dosen kontrak menjadi Dosen tetap berdasarkan hasil evaluasi terhadap Dosen kontrak yang telah menjalani sekurang-kurangnya  3(tiga) bulan masa kontrak.
  3. Dalam hal Ketua STIE Surakarta tidak mengusulkan pengangkatan Dosen kontrak sebagaimana dimaksud ayat 2 (dua), STIE Surakarta akan memberitahukan Dosen kontrak paling lambat 1 (satu) bulan sebelum perjanjian kerja berakhir.

 

                                                                                                                Pasal 15

PENERIMAAN DAN PENGANGKATAN KANDIDAT DOSEN

 

  1. Calon Kandidat Dosen yang dinyatakan lulus seleksi menandatangai surat perjanjian kerja waktu tertentu sebagai Tenaga kependidikanuntuk 1 (satu) kali masa kontrak dan dapat diperpanjang untuk 1 (satu) kali masa kontrak berikutnya berdasarkan hasil evaluasi pada akhir masa kontrak sebelumnya.
  2. Kandidat Dosen yang diterima pada program studi S2 menandatangani surat perjanjian beasiswa.
  3. Surat perjanjian beasiswa sebagaimana dimaksud ayat 2 (dua) mengakhiri perjanjian kerja waktu tertentu sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu).
  4. Ketua STIE Surakarta mengusulkan pengangkatan Kandidat Dosen yang telah menyelesaikanprogram studi S2 menjadi Dosen tetap.
  5. Ketua STIE Surakarta dapat mengusulkan pengangkatan Kandidat Dosen yang gagal diterima atau menyelesaikan program studi S2 menjadi Pegawai tetap berdasarkan hasil evaluasi.
  6. Dalam hal Ketua STIE Surakarta tidak mengusulkan pengangkatan Kandidat Dosen sebagaimana dimaksud ayat 5 (lima STIE Surakarta akanmemberitahukan Kandidat Dosen paling lambat 1 (satu) bulan sebelum perjanjian kerja berakhir.
  7. Ketentuan lebih lanjut mengenai Kandidat Dosen diatur dengan Peraturan Ketua STIE Surakarta.

 

                                                                                                                Pasal 16

PENERIMAAN DAN PENGANGKATAN TENAGA KEPENDIDIKAN

 

  1. Calon Tenaga kependidikanyang dinyatakan lulus seleksi menandatangani surat perjanjian kerja waktu tertentu sebagai Pegawai dalam masa percobaan atau Pegawai kontrak.
  2. Surat perjanjian kerja waktu tertentu sebagai Pegawai dalam masa percobaan berlaku untuk masaselama-lamanya 3 (tiga) bulan.
  3. Selama masa percobaan, Pegawai bersangkutan dapat memutuskan hubungan kerja yang diberitahukan sekurang-kurangnya 2 (dua) hari sebelum pengunduran diri.
  4. Dalam  hal  pemutusan  hubungan  kerja  sebagaimana  dimaksud  ayat 3 (tiga),  Yayasan  tidakmemberikan uang pesangon kecuali upah yang belum dibayarkan sesuai dengan bulan berjalan.
  5. Ketua dapat mengusulkan pengangkatan Pegawai dalam masa percobaan menjadi Pegawai tetapberdasarkan  hasil  evaluasi  terhadap  Pegawai  dalam  masa  percobaan  yang  telah  menjalanisekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan masa kerja.
  6. Dalam hal Ketua tidak mengusulkan pengangkatan Pegawai dalam masa percobaan sebagaimana dimaksud ayat 3 (tiga), STIE Surakarta akan memberitahukan Pegawai bersangkutan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum perjanjian kerja berakhir.
  7. Dalam hal berakhirnya perjanjian kerja  sebagaimana dimaksud ayat         6 (enam), Yayasan tidak memberikan uang pesangon kecuali upah yang belum dibayarkan sesuai dengan bulan berjalan.
  8. Surat perjanjian kerja waktu tertentu sebagai Pegawai kontrak berlaku untuk 1 (satu) kali masa kontrak dan dapat diperpanjang untuk  1  (satu) kali masa kontrak berikutnya dengan mengikuti ketentuan perundang-undangan.
  9. Dalam hal berakhirnya perjanjian kerja sebagaimana dimaksud ayat 8 (delapan), Yayasan tidak memberikan uang pesangon kecuali upah yang belum dibayarkan sesuai dengan bulan berjalan.

 

                                                                                                                Pasal 17

PANGKAT/GOLONGAN

 

  1. Dosen kontrak atau Pegawai yang telah menjalani masa percobaan diangkat menjadi Pegawai tetap dalam pangkat/golongan tertentu apabila setiap aspek evaluasi sekurang-kurangnya bernilai baik.
  2. Pangkat/golongan yang diberikan kepada Dosen pada pengangkatan pertama sebagai Pegawai tetap berdasarkan inpassingnya kecuali yang tidak memiliki jabatan fungsional, yakni sebagai berikut:
    1. Dosen yang tidak memiliki jabatan fungsional, III/A;
    2. Dosen yang memiliki jabatan fungsional Asisten Ahli, III/B;
    3. Dosen yang memiliki jabatan fungsional Lektor, III/C;
    4. Dosen yang memiliki jabatan fungsional Lektor Kepala, III/D; dan
    5. Dosen yang memiliki jabatan fungsional Guru Besar, IV/A;

 

  1. Pangkat/golongan yang diberikan kepada Tenaga kependidikanpada pengangkatan pertama sebagaiPegawai tetap adalah sebagai berikut:
    1. Pegawai yang memiliki ijazah SLTA atau sederajat,
    2. II/A;
    3. Pegawai yang memiliki ijazah DIII atau sederajat, II/B;
    4. Pegawai yang memiliki ijazah S1 atau sederajat, III/A;
    5. Pegawai yang memiliki ijazah S2 atau Sp.I, III/B; dan
    6. Pegawai yang memiliki ijazah S3 atau Sp.II, III/C;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                Pasal 18

BATAS KENAIKAN PANGKAT/GOLONGAN

 

  1. Batas kenaikan pangkat/golongan reguler bagi Dosen adalah sebagai berikut:
    1. Dosen yang memiliki ijazah S2 atau Sp.I setinggi-tingginya sampai dengan IV/A, kecuali memiliki jabatan fungsional Lektor Kepala setinggi-tingginya sampai dengan IV/C; dan
    2. Dosen yang memiliki ijazah S3 atau Sp.II setinggi-tingginya sampai dengan IV/B, kecuali memiliki jabatan fungsional Guru Besar setinggi-tingginya sampai dengan IV/E.
    3. Batas kenaikan pangkat/golongan reguler bagi Tenaga kependidikanadalah sebagai berikut:
      1. Pegawai yang memiliki ijazah SD atau sederajat setinggi-tingginya sampai dengan I/D;
      2. Pegawai yang memiliki ijazah SLTP atau sederajat, setinggi-tingginya sampai dengan II/A;
      3. Pegawai yang memiliki ijazah SLTA atau sederajat, setinggi-tingginya sampai dengan II/D;
      4. Pegawai yang memiliki ijazah Diploma III atau sederajat, setinggi-tingginya sampai dengan III/A;
      5. Pegawai yang memiliki ijazah S1 atau sederajat, setinggi-tingginya sampai dengan III/D;
      6. Pegawai yang memiliki ijazah S2 atau Sp.I, setinggi-tingginya sampai dengan IV/A; dan
      7. Pegawai yang memiliki ijazah S3 atau Sp.II, setinggi-tingginya sampai dengan IV/A. 3) Pengecualian atas ketentuan di atas dapat diatur dengan keputusan Yayasan.

 

                                                                                                                Pasal 19

JENJANG PANGKAT/GOLONGAN

  1. Jenjang pangkat/golongan yang berlaku bagi Dosen adalah sebagai berikut:
    1. Dosen yang tidak memiliki jabatan fungsional: III/A;
    2. Dosen yang memiliki jabatan fungsional Asisten Ahli: III/B;
    3. Dosen yang memiliki jabatan fungsional Lektor: III/C dan III/D;
    4. Dosen yang memiliki jabatan fungsional Lektor Kepala: IV/A, IV/B, dan IV/C; dan
    5. Dosen yang memiliki jabatan fungsional Guru Besar: IV/D dan IV/E.

 

 

  1. Jenjang pangkat/golongan yang berlaku bagi Tenaga kependidikanadalah sebagai berikut:
    1. Pegawai yang memiliki ijazah SLTA atau sederajat: II/A, II/B, II/C, dan II/D;
    2. Pegawai yang memiliki ijazah DIII atau sederajat: II/B, II/C, II/D, dan III/A;
    3. Pegawai yang memiliki ijazah S1 atau sederajat: III/A, III/B, III/C, dan III/D;
    4. Pegawai yang memiliki ijazah S2 atau Sp.I: III/B, III/C, III/D, dan IV/A; dan
    5. Pegawai yang memiliki ijazah S3 atau Sp.II: III/C, III/D, dan IV/A.
    6. Perubahan pangkat/golongan Tenaga kependidikanditetapkan oleh Yayasan dengan mempertimbangkan usul Ketua;
    7. Perubahan pangkat/golongan Dosen ditetapkan oleh Yayasan berdasarkan inpassingnya melalui Kopertis.

 

                                                                                                                Pasal 20

NOMOR INDUK PEGAWAI

 

  1. Pegawai tetap dan tidak tetap diberikan Nomor Induk Karyawan (NIK) sebagai identitas PegawaiYayasan.
  2. NIK hanya berlaku selama Pegawai yang bersangkutan menjadi Pegawai Yayasan.

 

                                                                                                                Pasal 21

PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU

 

  1. Penerimaan Pegawai tidak tetap dilakukan dengan sistem perjanjian kerja waktu tertentu setelah melalui seleksi dan memenuhi persyaratan penerimaan Pegawai;
  2. Jangka waktu perjanjian kerja waktu tertentu bagi Pegawai kontrak adalah 1 (satu) tahun dan dapatdiperpanjang 1 (satu) tahun lagi sesuai kebutuhan;
  3. Jangka waktu perjanjian kerja waktu tertentu bagi Pegawai dalam masa percobaan adalah 6 (enam)bulan;
  4. Hak dan kewajiban Pegawai tidak tetap ditetapkan dalam surat perjanjian kerja waktu tertentu yangdisepakati dan ditandatangani oleh Yayasan sebagai pemberi kerja dan Pegawai sebagai penerimakerja;
  5. Pegawai tidak tetap wajib mematuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku;
  6. Hubungan kerja berakhir dengan berakhirnya masa kesepakatan kerja, sebagaimana ditetapkan dalam surat perjanjian kerja waktu tertentu, tanpa ada kewajiban apa pun dari Yayasan kepada Pegawai bersangkutan.

 

                                                                                                                Pasal 22

HARI DAN JAM KERJA

 

  1. Hari kerja adalah Senin sampai dengan Sabtu, kecuali hari tersebut dinyatakan oleh Pemerintahsebagai hari libur resmi;
  2. Pembagian jam kerja efektif dan jam istirahat adalah selama 8 jam efektif;
  3. Ketentuan jam bertugas/berkantor bagi Dosen dan Tenaga kependidikandapat diatur dengan penugasan Ketua bedasarkan kebutuhan.

 

                                                                                                                Pasal 23

MASA ORIENTASI

 

Pegawai baru diberikan latihan orientasi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja sebelum memegang jabatan atau melaksanakan tugas.

 

 

 

 

BAB III

HUBUNGAN KERJA & PEMBERDAYAAN PEGAWAI

                                                                                                                Pasal 24

PROMOSI, MUTASI, DEMOSI, DAN PENUGASAN SEMENTARA

 

  1. Ketua STIE Surakarta memiliki wewenang untuk menempatkan, memindahkan, atau Mengalih tugaskan Pegawai dari satu posisi ke posisi lainnya berupa promosi atau mutasi jabatan baik dalam satu maupun lintas unit kerja yang bertujuan untuk pendayagunaan Pegawai dan/atau mencapai tujuan operasional dengan persetujuan Yayasan Bina Wiraswasta Surakarta.
  2. Penempatan, perpindahan, atau pengalihtugasan sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) dilakukan berdasarkan:
    1. pengembangan diri Pegawai;
    2. penegakan disiplin Pegawai;
    3. prestasi dan kinerja Pegawai;
    4. kompetensi Pegawai;
    5. kualifikasi pekerjaan;
    6. adanya perubahan struktur organisasi;
    7. kebutuhan Pegawai tertentu di bagian tertentu;
    8. pengurangan pekerjaan pada satu bagian dan bertambahnya pekerjaan pada bagian lain; dan
    9. usulan dari atasan Pegawai.

 

  1. Ketua memiliki wewenang untuk menurunkan jabatan Pegawai atau demosi baik dalam satu maupunlintas unit kerja berdasarkan:
    1. ketidakmampuan atau ketidakcakapan Pegawai meskipun telah dibina dan diberikan kesempatan;
    2. tingkah laku, kejujuran, loyalitas, dan tanggung jawab Pegawai yang tidak patut/sepadan dengan jabatan yang diemban meskipun telah diberikan peringatan;
    3. tindak pelanggaran yang dilakukan Pegawai; dan
    4. kinerja Pegawai.
    5. Ketua dapat menugasi Pegawai untuk menempati posisi/jabatan tertentu yang bersifat sementara dan dilakukan untuk jangka waktu tertentu sesuai kebutuhan.

                                                                                                                Pasal 25

PENAMBAHAN JABATAN

  1. Ketua STIE Surakarta dapat menambah tanggung jawab Pegawai tanpa mengubah jabatannya dengan maksud sebagai pengembangan diri Pegawai sesuai dengan kebutuhan operasional STIE Surakarta atas persetujuan Yayasan Bina Wiraswasta Surakarta;
  2. Penambahan tanggung jawab sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) tidak dikategorikan sebagaipromosi.

 

                                                                                                                Pasal 26

JENIS JABATAN

  1. Jenis jabatan terdiri atas:
    1. jabatan struktural; dan
    2. jabatan fungsional.
    3. Jabatan struktural sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) huruf a meliputi:
      1. jabatan struktural akademik yakni ketua, pembantu ketua, kepala LP3M, kepala bagian, kepala UPT, ketua program studi;
      2. jabatan stuktural administratif yakni kepala bagian dan kepala subbagian.
      3. Jabatan struktural akademik sebagaimana dimaksud ayat 2 (dua) huruf a dijabat oleh Dosen tetapuntuk jangka waktu tertentu;
      4. Jabatan struktural administratif sebagaimana dimaksud ayat 2 (dua) huruf b dijabat oleh Dosen tetapatau Pegawai tetap untuk jangka waktu tertentu;
      5. Jabatan fungsional sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) huruf b melekat pada Dosen yang terdiridari Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, dan Guru Besar.
      6. Dosen  tetap  dan  Dosen  kontrak  wajib  menyetarakan  jabatan  fungsionalnya  sesuai  ketentuanKementrian tentang perhitungan angka kredit.
      7. Dosen tetap yang menduduki jabatan fungsional dan telah ditetapkan angka kreditnya diberikan tunjangan fungsional yang besarnya diatur dengan ketentuan Yayasan.

                                                                                                                Pasal 27

PENGELOMPOKAN JABATAN STRUKTURAL

  1. Jabatan struktural sebagaimana dimaksud Pasal 23 (dua puluh tiga) ayat 2 (dua) dikelompokkan berdasarkan  bobot  tugas,  tanggung  jawab,  dan  wewenang  yang  berdampak  pada  tunjangan struktural;
  2. Pengelompokkan jabatan struktural sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) terdiri atas:
    1. kelompok I yakni ketua;
    2. kelompok II yakni pembantu ketua, kepala lembaga;
    3. kelompok III yakni ketua program studi
    4. kelompok IV yakni ketua jurusan;
    5. kelompok V yakni kepala bagian;

 

                                                                                                                Pasal 28

PERSYARATAN MENDUDUKI JABATAN STRUKTURAL

  1. Penempatan Pegawai pada jabatan struktural di bawah Ketua ditetapkan oleh Ketua dengan persetujuan Yayasan Bina Wiraswasta Surakarta..
  2. Penetapan  pejabat  struktural  sebagaimana  dimaksud  ayat 1 (satu)  didasarkan  atas  penilaianterhadap calon pejabat yang meliputi persyaratan umum sebagai berikut:
    1. memiliki kompetensi, kualifikasi, dan tingkat pendidikan yang dibutuhkan untuk jabatan struktural yang bersangkutan;
    2. memiliki prestasi kerja yang baik;
    3. tidak pernah mendapatkan surat peringatan tertulis;
    4. tidak sedang menjalani tugas belajar; dan
    5. memiliki jabatan fungsional bagi calon pejabat struktural akademik.
    6. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan menduduki jabatan struktural dan tata cara pemilihan pejabat struktural diatur dengan Peraturan Ketua STIE Surakarta.

 

 

                                                                                                                Pasal 29

PERSYARATAN MENDUDUKI JABATAN FUNGSIONAL

  1. Jabatan  fungsional  Dosen  diusulkan  oleh  Ketua  berdasarkan  ketentuan  angka  kredit  untuk mendapatkan persetujuan Senat dan ditetapkan oleh Yayasan berdasarkan surat keputusan dari Kementrian.
  2. Persyaratan, pengangkatan, dan kenaikan jabatan fungsional mengacu pada ketentuan angka kredityang ditetapkan Kementrian.

 

                                                                                                                Pasal 30

STATUS JABATAN STRUKTURAL

  1. Status jabatan struktural terdiri atas:
    1. pejabat tetap/defintif, adalah status jabatan yang telah bersifat tetap/definitif karena dijabat oleh Pegawai yang telah memenuhi seluruh syarat jabatan yang ditentukan;
    2. pelaksana tugas (plt), adalah status jabatan yang belum bersifat tetap/definif karena Pegawai yang diangkat pada jabatan tersebut belum memenuhi persyaratan jabatan, dengan masa jabatan maksimal selama 1 (satu) tahun;
    3. pejabat sementara (pjs), adalah status jabatan sementara karena pejabat tetap/definitif berha-langan tetap minimal selama 6 (enam) bulan; dan
    4. pejabat pelaksana harian (plh), adalah status jabatan untuk melaksanakan tugas jabatan sehari-hari karena pejabat tetap/definitif berhalangan sementara maksimal selama 3 (tiga) bulan.
    5. Pejabat tetap/definitif sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) huruf a dan pelaksana tugas (plt) sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) huruf b ditetapkan dengan surat keputusan Ketua STIE Surakarta dengan persetujuan Yayasan Bina Wiraswasta Surakarta.;
    6. Pejabat sementara (pjs) sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) huruf c dan pejabat pelaksana harian (plh) sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) huruf d ditetapkan dengan surat tugas dari Ketua STIE Surakarta;
    7. Pelaksana tugas (plt) melaksanakan tugas dan tanggung jawab jabatan sepenuhnya;
    8. Pejabat sementara (pjs) dan pejabat pelaksana harian (plh) melaksanakan tugas dan tanggung jawab jabatan yang bersifat operasional/rutin;
    9. Pejabat tetap/definif dan pelaksana tugas (plt) tidak boleh dirangkap dengan jabatan struktural lainnya;
    10. Pejabat tetap/definitif dan pelaksana tugas (plt) mendapatkan tunjangan jabatan struktural penuh;
    11. Pejabat sementara (pjs) mendapatkan tunjangan jabatan struktural yang tertinggi apabila terjadi rangkap jabatan;
    12. Pejabat pelaksana harian (plh) mendapatkan insentif sebesar selisih tunjangan jabatan struktural plh dengan tunjangan jabatan definitifnya apabila menjabat minimal 1 (satu) bulan.

 

                                                                                                                Pasal 31

MASA JABATAN

 

  1. Masa jabatan struktural berlangsung selama-lamanya 4 (empat) tahun ;
  2. Pejabat yang sudah menjalani 1 (satu) kali masa jabatan dapat diangkat kembali pada jabatan yangsama untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya;
  3. Dalam hal jabatan Ketua, pejabat yang sudah menjalani 2 (dua) kali masa jabatan, baik berturut-turut maupun tidak, tidak dapat diangkat kembali pada jabatan yang sama kecuali memiliki prestasi khusus dapat diangkat kembali;
  4. Dalam hal jabatan di bawah Ketua, pejabat yang sudah menjalani 2 (dua) kali masa jabatan berturut-turut dapat diangkat kembali pada jabatan yang sama dengan ketentuan tidak untuk masa jabatan berikutnya dan tidak boleh lebih dari 2 (dua) kali masa jabatan berturut-turut kecuali memiliki prestasi khusus dapat diangkat kembali;
  5. Masa jabatan fungsional Dosen berlangsung selama dosen yang bersangkutan melaksanakan tugasfungsional secara aktif di STIE Surakarta.

                                                                                                                Pasal 32

MASA PENUGASAN

  1. Pegawai tetap pada dasarnya bertugas hingga mencapai batas usia pensiun/purna tugas;
  2. Batas usia pensiun/purna tugas Pegawai tetap adalah sebagai berikut:
    1. Tenaga kependidikanadalah 55 (lima puluh lima) tahun, tetapi apabila masih diperlukan dan masih
      potensial untuk melaksanakan tugas, dapat ditugaskan kembali dengan status Pegawai kontrak
      untuk jangka waktu maksimal 2 (dua) tahun sesuai ketentuan perundang-undangan.
    2. Dosen adalah yang sudah memiliki batas waktu mengajar hingga 65 tahun, sedangkan dosen bergelar profesor berusia 70 tahun.
    3. Dosen yang teregistrasi pada NIDK, bisa diperpanjang hingga usia 70 tahun bagi nonprofesor, serta 79 tahun untuk profesor.
    4. Dosen  bagi yang terdaftar pada NUP tidak dibatasi umurnya.

 

                                                                                                                Pasal 33

DOSEN TETAP YANG MELAMAR PNSD

 

  1. Dosen tetap yang hendak melamar menjadi Dosen pegawai negeri sipil (DPNS) harus mengundurkan diri terlebih dulu sebagai Dosen tetap sesuai ketentuan Peraturan Kepegawaian ini;
  2. Ketua mengajukan kepada Kopertis agar mantan Dosen tetap yang diterima sebagai Dosen DPNSditempatkan di STIE Surakarta.

 

                                                                                                                Pasal 34

WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB

PENGANGKATAN & PEMBERHENTIAN PEJABAT STRUKTURAL

Pengangkatan dan pemberhentian pejabat struktural ditetapkan dengan surat keputusan dari pejabat yang berwenang dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Jabatan Ketua ditetapkan dengan surat keputusan Yayasan; dan
  2. Jabatan di bawah Ketua ditetapkan dengan surat keputusan Ketua.

 

BAB IV

PENILAIAN KINERJA

                                                                                                                Pasal 35

PENILAIAN

  1. Penilaian  kinerja  Pegawai  dilakukan  secara  berkala  sekurang-kurangnya1     (satu)  kali  setiapsemester.
  2. Penilaian kinerja Pegawai terdiri atas:
    1. penilaian  kinerja  struktural  bagi  Pegawai  nondosen  dan  Dosen  yang  menduduki  jabatan struktural; dan
    2.  penilaian kinerja fungsional bagi Dosen.
    3. Hasil penilaian kinerja akan dijadikan dasar untuk pengangkatan pejabat struktural, perubahan pangkat/golongan, pemilihan Pegawai teladan, pembinaan Pegawai, dan/atau pemberian bonus.
    4. Hasil penilaian kinerja bersifat rahasia dan oleh sebab itu harus disimpan dengan sebaik-baiknya.
    5. Hasil penilaian kinerja dapat diketahui oleh Pegawai yang dinilai, atasan Pegawai, atau pejabat/pegawai lainnya yang karena tugas atau jabatannya mengharuskan mengetahui hasil penilaian  tersebut.

 

                                                                                                                Pasal 36

WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB PENILAIAN KINERJA

  1. Penilai dalam sistem penilaian kinerja struktural terdiri atas atasan, sejawat, dan/atau bawahan dari Pegawai yang dinilai, yang ditetapkan oleh Ketua STIE Surakarta;
  2. Penilai memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan penilaian terhadap Pegawai yang dinilai;
  3. Penilai memiliki hubungan langsung secara struktural dengan Pegawai yang dinilai;
  4. Penilai sejawat diperbolehkan tidak memiliki hubungan langsung secara struktural dan/atau berasaldari unit kerja yang berbeda dengan Pegawai yang dinilai;
  5. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penilaian struktural dan tata cara penilaian fungsionaldiatur dengan Peraturan Ketua.

 

BAB V

KENAIKAN PANGKAT/GOLONGAN BAGI TENAGA KEPENDIDIKAN

                                                                                                                Pasal 37

 

  1. Jenis kenaikan pangkat/golongan bagi Tenaga kependidikanadalah sebagai berikut:
    1. kenaikan pangkat/golongan reguler;
    2. kenaikan pangkat/golongan penyesuaian; dan
    3. kenaikan pangkat/golongan dalam jabatan struktural.
    4. Kenaikan pangkat/golongan reguler diberikan kepada Pegawai yang telah memenuhi persyaratan yang ditentukan tanpa memperhatikan jabatan struktural yang dipangkunya.
    5. Persyaratan bagi kenaikan pangkat/golongan reguler sebagaimana dimaksud ayat 2 (dua) antaralain:
      1. telah mempunyai masa kerja 4 (empat) tahun pada pangkat/golongan terakhir;
      2. tersedia formasi untuk pangkat tersebut; dan
      3. penilaian kinerja sekurang-kurangnya baik dalam 4 (empat) tahun terakhir.
      4. Dalam hal tidak terpenuhinya penilaian kinerja sebagaimana dimaksud ayat 3 (tiga) huruf c, maka kenaikan pangkat/golongan regulernya ditunda untuk waktu 1 (satu) tahun;
      5. Apabila setelah waktu penundaan Pegawai bersangkutan belum menunjukkan penilaian kinerja sekurang-kurangnya  baik  selama  masa  penundaan,  maka  kenaikan  pangkat/golongan  reguler ditunda lagi tiap-tiap kali untuk waktu 1 (satu) tahun;
      6. Apabila tidak ada alasan lagi untuk penundaan, maka kenaikan pangkat/golongan reguler tersebut diberikan mulai bulan berikutnya dari masa penundaan tersebut;
      7. Masa penundaan kenaikan pangkat/golongan reguler tidak dihitung untuk kenaikan pangkat/golongan reguler berikutnya;
      8. Kenaikan pangkat/golongan penyesuaian diberikan kepada Pegawai sebagai penyesuaian terhadapijazah yang dimilikinya tanpa memperhatikan jabatan struktural yang dipangkunya;
      9. Persyaratan bagi kenaikan pangkat/golongan penyesuaian sebagaimana dimaksud ayat 8 (delapan)antara lain:
        1. mendapatkan izin melanjutkan studi dari Yayasan atas usul Ketua;
        2. menyelesaikan studi lanjut sesuai dengan ketentuan yang berlaku; dan
        3. tersedia formasi untuk pangkat tersebut.
        4. Kenaikan pangkat/golongan dalam jabatan struktural diberikan kepada Pegawai karena persyaratan pangkat/golongan dalam jabatan struktural;
        5. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan  pangkat/golongan dalam jabatan struktural diatur dengan Peraturan Ketua;
        6. Kenaikan pangkat/golongan Pegawai ditetapkan oleh Yayasan atas usul Ketua.

                                                                                                                Pasal 38

KENAIKAN PANGKAT/GOLONGAN BAGI DOSEN

  1. Jenis kenaikan pangkat/golongan bagi Dosen adalah sebagai berikut:
    1. kenaikan pangkat/golongan reguler; dan
    2. kenaikan pangkat/golongan dalam jabatan fungsional.
    3. Kenaikan pangkat/golongan reguler diberikan kepada Dosen yang telah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan berdasarkan Inpassingnya tanpa memperhatikan jabatan struktural dan/atau fungsional yang dipangkunya;
    4. Persyaratan bagi kenaikan pangkat/golongan reguler sebagaimana dimaksud ayat 3 (tiga) antara lain:
      1. telah mempunyai masa kerja 2 (dua) tahun pada pangkat/golongan terakhir;
      2. tersedia formasi untuk pangkat tersebut;
      3. penilaian kinerja sekurang-kurangnya baik dalam 2 (dua) tahun terakhir; dan
      4. memenuhi ketentuan angka kredit yang ditetapkan Kementrian.
      5. Dalam hal tidak terpenuhinya penilaian kinerja sebagaimana dimaksud ayat tiga (tiga) huruf c, maka kenaikan pangkat/golongan regulernya ditunda untuk waktu 1 (satu) tahun;
      6. Apabila setelah waktu penundaan Pegawai bersangkutan belum menunjukkan penilaian kinerja sekurang-kurangnya  baik  selama  masa  penundaan,  maka  kenaikan  pangkat/golongan  reguler ditunda lagi tiap-tiap kali untuk waktu 1 (satu) tahun;
      7. Apabila tidak ada alasan lagi untuk penundaan, maka kenaikan pangkat/golongan reguler tersebut diberikan mulai bulan berikutnya dari masa penundaan tersebut;
      8. Masa penundaan kenaikan pangkat/golongan reguler tidak dihitung untuk kenaikan pangkat/golong-an reguler berikutnya;
      9. Kenaikan pangkat/golongan dalam jabatan fungsional diberikan kepada Dosen sebagai penyesuaian terhadap jabatan fungsional yang dimilikinya dengan berdasarkan inpassingnya tanpa memperhatikan jabatan struktural yang dipangkunya;
      10. Kenaikan pangkat/golongan Dosen diusulkan oleh Ketua berdasarkan ketentuan angka kredit untuk mendapatkan persetujuan Senat dan ditetapkan oleh Yayasan berdasarkan inpassing dari Kementrian.

 

BAB VI

PENGEMBANGAN PEGAWAI

                                                                                                                Pasal 39

PROGRAM PENGEMBANGAN PEGAWAI

  1. Untuk meningkatkan kualitas Pegawai agar dapat menjalankan tugas dan fungsi dengan sebaik-baiknya, Yayasan melaksanakan program pengembangan Pegawai yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan Yayasan dan ruang lingkup pekerjaan Pegawai;
  2. Jenis pengembangan yang diberikan kepada Pegawai dapat berupa:
    1. pelatihan dan/atau sertifikasi pengetahuan, ketrampilan, kompetensi, dan profesional; dan
    2. program pendidikan lanjut atau tugas belajar dengan syarat dan ketentuan yang diatur oleh Yayasan.
    3. Persyaratan mengikuti pelatihan dan/atau sertifikasi sebagaimana dimaksud ayat 2 (dua) huruf aadalah:
      1. pegawai tetap;
      2.  diusulkan oleh Ketua;
      3. mempunyai penilaian kinerja baik;
      4. Persyaratan mengikuti program pendidikan lanjut atau tugas belajar dan ijin belajar sebagaimana dimaksud ayat 2(dua) huruf b adalah:
        1. dosen tetap atau kandidat dosen;
        2. lolos seleksi sebagai penerima program pendidikan lanjut atau tugas belajar;
        3. diusulkan oleh Ketua;
        4. mempunyai penilaian kinerja baik;
        5. usia maksimal untuk mengikuti program S3 adalah 45 tahun, kecuali diputuskan berbeda olehYayasan atas usul Ketua sesuai dengan kepentingan STIE Surakarta;
        6. bersedia menempuh pendidikan pada jalur disiplin ilmu yang dibutuhkan STIE Surakarta; dan
        7. menandatangani surat perjanjian tugas belajar.
        8. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara seleksi program pendidikan lanjut atau tugas belajar dan ijin belajar diaturdengan Peraturan Ketua dengan persetujuan yayasan.

 

                                                                                                                Pasal 40

KEWAJIBAN & HAK PENERIMA TUGAS BELAJAR  DAN IJIN BELAJAR

 

  1. Tugas belajar
    1. Kewajiban Pegawai yang menerima tugas belajar adalah sebagai berikut:

1)         tugas belajar harus diselesaikan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan, yakni:

a)        program studi S2 adalah 2 (dua) tahun; dan

b)       program studi S3 adalah 4/5 (empat atau lima) tahun.

2)         dalam hal jangka waktu tugas belajar sebagaimana dimaksud ayat 1) (satu) huruf a) tidak tercapai, maka dapat diperpanjang selama 1 (satu) semester;

3)         membuat laporan pendidikan secara periodik per semester kepada Ketua STIE Surakarta;

4)         tetap melaksanakan tugas dan tanggungjawab di STIE Surakarta;

5)         Setelah menyelesaikan tugas belajar selama minimal 3 kali masa study bekerja di STIE Surakarta dengan persetujuan yayasan.

 

  1. Hak Pegawai yang menerima tugas belajar adalah sebagai berikut:

1)         selama menjalani masa tugas belajar, Pegawai tetap menerima gaji dan tunjangan sesuai ketentuan yang berlaku kecuali tunjangan jabatan stuktural;

2)         masa tugas belajar diperhitungkan sebagai masa kerja efektif;

3)         Dalam hal anggaran biaya pendidikan dan biaya hidup Pegawai selama menjalani masa tugas belajar dapat bersumber dari beasiswa eksternal dengan dukungan Yayasan.

 

  1. Ijin Belajar
    1. Kewajiban Pegawai yang menerima ijin belajar adalah sebagai berikut:

1)         Ijin belajar harus diselesaikan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan, yakni:

a)        program studi S2 adalah 2 (dua) tahun; dan

b)       program studi S3 adalah 5 (lima) tahun.

2)         dalam hal jangka waktu ijin belajar sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) huruf a tidak tercapai, maka dapat diperpanjang selama 1 (satu) semester;

3)         tetap melaksanakan tugas dan tanggungjawab di STIE Surakarta;

4)         Ijin belajar dilakukan dengan tidak menganggu aktivitas tugas dan tanggungjawab di STIE Surakarta;

5)         Setelah menyelesaikan ijin belajar selama minimal 3 kali masa studi bekerja di STIE Surakarta dengan persetujuan yayasan.

  1. Hak Pegawai yang menerima ijin belajar adalah sebagai berikut:

1)         selama menjalani masa ijin belajar, Pegawai tetap menerima gaji dan tunjangan sesuai ketentuan yang berlaku;

2)         masa ijin belajar diperhitungkan sebagai masa kerja efektif;

3)         Dalam hal anggaran biaya pendidikan dan biaya hidup Pegawai selama menjalani masa ijin belajar dapat bersumber dari beasiswa eksternal dengan dukungan Yayasan.

 

                                                                                                                Pasal 41

WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB PROGRAM PENGEMBANGAN PEGAWAI

 

  1. Rencana program pengembangan Pegawai disusun oleh Ketua STIE Surakarta sesuai rencana kebutuhan pengembangan kualitas Pegawai dan dituangkan dalam rencana kerja dan anggaran tahunan dengan persetujuan Yayasan Bina Wiraswasta Surakarta;
  2. Yayasan melaksanakan supervisi atas penyelenggaraan program pengembangan Pegawai sesuai dengan anggaran STIE Surakarta yang telah ditetapkan;
  3. Ketua melaporkan pelaksanaan program pengembangan Pegawai kepada Yayasan.

BAB VII

PEMELIHARAAN PEGAWAI

                                                                                                                Pasal 42

TUJUAN

Pemeliharaan Pegawai pada dasarnya memberikan kesejahteraan jasmani dan rohani kepada Pegawai beserta  keluarganya  agar  mampu  melaksanakan  tugas  dan  fungsi  dengan  sebaik-baiknya  untuk kepentingan Yayasan dan STIE Surakarta.

                                                                                                                Pasal 43

JENIS PEMELIHARAAN

 

Pemeliharaan Pegawai bersifat:

  1. materiil, yaitu segala sesuatu yang diterima Pegawai untuk kebutuhan jasmani, antara lain:

1)           Penghasilan/gaji; dan

2)           kesejahteraan.

  1. nonmateriil, yaitu segala sesuatu yang diterima Pegawai untuk dapat menumbuhkan motivasi dan semangat pengabdian untuk melaksanakan tugas dan fungsi di lingkungan Yayasan dan STIE Surakarta dengan sebaik-baiknya.

 

                                                                                                                Pasal 44

PEMELIHARAAN MATERIIL PENGHASILAN

  1. Penghasilan diberikan kepada Pegawai sebagai imbal jasa atas hasil kerjanya berdasarkan azaskeadilan dan profesionalitas;
  2. Jenis penghasilan Pegawai terdiri atas:
    1. penghasilan tetap;
    2. penghasilan tidak tetap; dan
    3. bantuan kesejahteraan.
    4. Penghentian pembayaran penghasilan dilakukan setelah ada surat keputusan tentang pengakhiranhubungan kerja (PHK) antara Yayasan dan Pegawai;
    5. Insentif Hari Raya diberikan kepada Pegawai tetap dan pembayarannya dilakukan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum hari raya.

 

                                                                                                                Pasal 45

PENGHASILAN TETAP

  1. Penghasilan tetap sebagaimana dimaksud pasal 39 (tiga puluh sembilan) ayat 2 (dua) huruf a adalah sejumlah dana yang diterima Pegawai secara tetap pada setiap akhir bulan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Yayasan;
  2. Penghasilan tetap bagi Pegawai tetap meliputi:
    1. gaji pokok, merupakan pemberian gaji sebagai imbal jasa atau penghargaan atas hasil kerja Pegawai berdasarkan pangkat/golongan dan masa kerja yang diberikan setiap bulan kepada Pegawai tetap; dan
    2. tunjangan kepada Pegawai tetap berdasarkan persetujuan dan ketentuan Yayasan.
    3. Penghasilan tetap bagi Pegawai tidak tetap meliputi:
      1. honorarium bulanan, diberikan kepada Pegawai tidak tetap yang besarnya ditetapkan sesuai indeks honorarioum yang ditetapkan Yayasan dan disepakati oleh Pegawai yang bersangkutan; dan
      2. honorarium penugasan, diberikan kepada Pegawai/Dosen PNS atau instansi lain yang dipekerjakan secara tetap di STIE Surakarta yang besarnya sesuai indeks honorarium yang ditetapkan Yayasan.

                                                                                                                Pasal 46

PENGHASILAN TIDAK TETAP

Penghasilan tidak tetap sebagaimana dimaksud pasal 39 (tiga puluh sembilan) ayat 2 (dua) huruf b adalah sejumlah dana yang diterima Pegawai secara tidak tetap, tergantung pada pelaksanaan tugas dan fungsinya, terdiri atas:

  1. tunjangan jabatan stuktural, diberikan kepada Pegawai yang menduduki jabatan struktural dan besarnya ditetapkan oleh Yayasan, yang dibayarkan sejak melaksanakan tugas jabatan struktural berdasarkan surat keputusan Ketua STIE Surakarta dan dihentikan pembayarannya apabila sudah tidak menjabat lagi berdasarkan surat keputusan Ketua STIE Surakarta;
  2. honorarium dan insentif, diberikan kepada Pegawai yang berhak sesuai ketentuan yang berlaku yang meliputi:

1)           honorarium tugas Dosen, diberikan kepada Dosen tetap karena melaksanakan tugas akademik yang dibayarkan sejak melaksanakan tugas berdasarkan surat tugas Ketua STIE Surakarta yang besarnya ditetapkan Yayasan, yang terdiri atas:

a)      honorarium mengajar;

b)     honorarium menguji ujian;

c)      honorarium membimbing skripsi, thesis, dan disertasi; dan

d)     honorarium penyusunan buku/diktat ilmiah.

2)           insentif penelitian dan pengabdian, diberikan kepada Dosen untuk menumbuhkan motivasi dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat yang besarnya ditetapkan Yayasan;

3)           honorarium kepanitiaan/kelompok/tim, diberikan kepada Pegawai karena melaksanakan tugas tertentu  dalam  wadah  kepanitian/kelompok/tim  kerja  yang  dibayarkan  berdasarkan surat keputusan/surat tugas Ketua STIE Surakarta dan besarnya ditetapkan oleh Yayasan; dan

4)           honorarium  dosen  luar  biasa,  merupakan  honorarium  pelaksanaan  tugas  mengajar  yang diberikan kepada dosen luar biasa yang dibayarkan sejak melaksanakan tugas berdasarkan surat keputusan Yayasan yang besarnya ditetapkan Yayasan.

  1. tunjangan jabatan fungsional, diberikan kepada Dosen tetap selama berstatus sebagai Dosen gunamenunjang  tugas  fungsionalnya  sebagai  Dosen,  terhitung  sejak  ditetapkannya  dalam  surat keputusan Yayasan tentang pengangkatan/penyesuaian jabatan fungsional Dosen berdasarkan surat penetapan angka kredit Kementrian, dan besarnya ditetapkan oleh Yayasan. Tunjangan jabatan fungsional tidak diberikan kepada Dosen karena hal-hal sebagai berikut:

1)             menjalani tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan;

2)             menjalani tugas diperbantukan kepada instansi pemerintah/swasta;

3)             menjalani cuti sakit lebih dari 6 (enam) bulan;

4)             menjalani status skorsing atau pemberhentian sementara;

 

                                                                                                                Pasal 47

BANTUAN KESEJAHTERAAN

  1. Bantuan kesejahteraan sebagaimana dimaksud pasal 39 (tiga puluh sembilan) ayat 2 (dua) huruf cdiberikan kepada Pegawai dalam hal sebagai berikut:
    1. bantuan bagi Pegawai yang mengalami musibah seperti bencana alam; sakit yang membutuhkan biaya besar; anak, istri, atau suami meninggal dunia, dan sebaginya; dan
    2. bantuan bagi Pegawai tetap yang melaksanakan pernikahan pertama.
    3. Besarnya bantuan kesejahteraan ditetapkan oleh Yayasan.

 

                                                                                                              Pasal 48

POTONGAN PENGHASILAN DAN SUBSIDI

 

Potongan penghasilan adalah potongan wajib yang dikenakan kepada Pegawai yang terdiri atas:

  1. potongan pajak penghasilan (PPh) sesuai dengan ketentuan Peraturan Pajak yang berlaku untuk disetorkan pada kas negara (Kantor Perbendaharaan Negara) atau bank yang ditunjuk;
  2. premi asuransi ditentukan oleh persetujuan Yayasan.

                                                                                                                Pasal 49

KENAIKAN GAJI BERKALA

 

  1. Pegawai tetap mendapatkan kenaikan gaji berkala dengan persyaratan sebagai berikut:
    1. telah mencapai masa kerja golongan yang ditentukan dalam daftar gaji pokok yang ditetapkanYayasan;
    2. diusulkan oleh Ketua setiap 2 (dua) tahun yang didasarkan pada penilaian kinerja;
    3. penilaian kinerja serendah-rendahnya cukup selama 2 (tahun) terakhir.
    4. Dalam hal tidak terpenuhinya penilaian kinerja sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) huruf c, maka kenaikan gaji berkalanya ditunda paling sedikit untuk waktu 1 (satu) tahun;
    5. Apabila setelah waktu penundaan Pegawai bersangkutan belum menunjukkan penilaian kinerja sekurang-kurangnya cukup selama masa penundaan, maka kenaikan gaji berkala ditunda lagi tiaptiap kali paling lama 1 (satu) tahun;
    6. Apabila tidak ada alasan lagi untuk penundaan, maka kenaikan gaji berkala tersebut diberikan mulaibulan berikutnya dari masa penundaan tersebut;
    7. Masa penundaan kenaikan gaji berkala tidak dihitung untuk kenaikan gaji berkala berikutnya;
    8. Kenaikan gaji berkala pada tahun masa kerja 33 (tiga puluh tiga) adalah kenaikan gaji terakhir danmerupakan gaji maksimum dalam golongannya.

                                                                                                                Pasal 50

KEBIJAKAN IMBAL JASA/PENGGAJIAN

  1. Sistem penggajian ditetapkan sepenuhnya oleh Yayasan;
  2. Penetapan gaji pada dasarnya ditetapkan berdasarkan keahlian, kecakapan, dan sebagainya, yangditentukan dalam struktur/skala gaji.
  3. Peninjauan gaji setiap Pegawai dilakukan secara tahunan berdasarkan hasil penilaian kinerja dan prestasi, dan kompetensi Pegawai dengan memperhatikan pertimbangan khusus dan tidak melebihi kemampuan Yayasan.
  4. Peninjauan gaji juga dapat dilakukan karena promosi, demosi, atau karena hal lain yang merupakanhak prerogatif Yayasan.
  5. Imbal jasa Pegawai terdiri dari gaji pokok, tunjangan tetap, dan tunjangan tidak tetap sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Yayasan.

                                                                                                                Pasal 51

LEMBUR PEGAWAI

  1. Yang dimaksud dengan kerja lembur adalah bekerja untuk menyelesaikan sesuatu pekerjaan di luar jam kerja lebih dari 2 (dua) jam kerja lembur atau hari kerja biasa atas dasar perintah tertulis dan persetujuan dari atasan langsung Pegawai.
  2. Pada dasarnya kerja lembur harus dibatasi seminimal mungkin demi pertimbangan ekonomis dan waktu istirahat bersama keluarga agar kesegaran fisik dan rohani terpelihara, oleh karena itu jam kerja harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan rutin sehari-hari.
  3. Dasar perhitungan uang lembur disesuai dengan kemampuan Yayasan.
  4. Dalam pelaksanaan kerja lembur harus diperhatikan ketentuan sebagai berikut:
    1. jam kerja lembur pada hari kerja tidak boleh lebih dari 3 (tiga) jam sehari, kecuali disetujui dan ditandatangani oleh pembantu Ketua yang berwenang;
    2. jumlah jam kerja lembur pada hari raya atau pada hari istirahat mingguan tidak boleh lebih dari 5 (lima) jam sehari; dan
    3. jumlah jam kerja lembur pada hari kerja dalam satu minggu tidak boleh lebih dari 14 (empat belas) jam.

 

                                                                                                                Pasal 52

GAJI BAGI PEGAWAI BARU

 

  1. Pembayaran pertama untuk Pegawai tetap yang baru diangkat diperhitungkan sebagai berikut:
    1. Hari pengangatan jatuh pada tanggal 1 s.d. 15, dibayar penuh sebesar penghasilan tetap dan penghasilan tidak tetap yang menjadi haknya.
    2. Hari pengangkatan jatuh pada tanggal 16 atau sesudahnya, dibayar 50% untuk penghasilantetap dan 100% untuk penghasilan tidak tetap yang menjadi haknya.
    3. Pembayaran pertama untuk Pegawai tidak tetap yang baru masuk kerja diperhitungkan sebagaiberikut:
      1. Hari pertama kerja jatuh pada tanggal 1 s.d. 15, dibayar penuh sebesar honorarium bulanan;
      2. Hari pertama kerja jatuh pada tanggal          16 atau sesudahnya, dibayar 50% dari honorarium bulanan.
      3. Pegawai yang baru diangkat setelah menjalani masa percobaan tidak diberikan kompensasi rapelgaji.

                                                                                                                Pasal 53        

GAJI SELAMA SAKIT

 

  1. Gaji selama sakit diberikan kepada Pegawai yang menderita sakit sehingga tidak dapat masuk kerja berdasarkan surat keterangan dokter yang asli dan sah serta dapat dipertanggungjawabkan.;
  2. Pemberian gaji selama sakit bagi Pegawai tetap sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) mengikuti ketentuan sebagai berikut:
    1. untuk 4 (empat) bulan pertama sebesar 100% dari penghasilan;
    2. untuk 4 (empat) bulan kedua sebesar 75% dari penghasilan;
    3. untuk 4 (empat) bulan ketiga sebesar 50% dari penghasilan;
    4. untuk bulan selanjutnya sebesar 25% dari penghasilan hingga PHK dilakukan oleh Yayasan; dan

                                                                                                                Pasal 54

GAJI SELAMA SAKIT BERKEPANJANGAN

  1. Gaji selama sakit berkepanjangan diberikan Yayasan kepada Pegawai yang menderita sakit cukup lama dan terus menerus berdasarkan surat keterangan dokter yang asli dan sah serta dapat dipertanggungjawabkan.
  2. Gaji selama sakit berkepanjangan diberikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yangberlaku.
  3. Pengakhiran  hubungan  kerja  terhadap  Pegawai  dapat  dilakukan  dalam  hal  Pegawai  sakit berkepanjangan yang telah melampaui 12 (dua belas) bulan di mana hal tersebut dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang sah dan dapat diterima oleh Yayasan. Kepada yang bersangkutan diberikan hak-hak yang sesuai dengan peraturan kepegawaian.

 

                                                                                                                Pasal 55

GAJI SELAMA PEGAWAI DIRUMAHKAN

  1. Apabila terjadi situasi/kondisi di mana Yayasan terpaksa menghentikan sebagian/seluruh kegiatan/pekerjaan, maka Yayasan dapat mengambil tindakan merumahkan Pegawai;
  2. Yayasan mempunyai hak prerogatif dalam mengambil tindakan merumahkan Pegawai yang dilakukan akibat kondisi keuangan Yayasan yang kurang sehat, bencana alam, dan lain-lain;
  3. Yayasan akan mengatur pelaksanaan tindakan merumahkan Pegawai melalui surat keputusan pada saat terjadi kondisi sebagaimana dimaksud ayat 2 (dua);
  4. Besarnya gaji selama Pegawai dirumahkan diatur lebih lanjut dengan ketentuan Yayasan.

 

                                                                                                              Pasal 56

WAKTU PEMBAYARAN GAJI

  1. Pembayaran gaji dilakukan di akhir bulan bank yang ditunjuk oleh Yayasan;
  2. Bilamana hari pembayaran gaji tersebut jatuh pada hari minggu atau hari libur besar lainnya, maka pembayaran dilakukan satu hari sebelumnya, kecuali bilamana Yayasan mempertimbangkan lain;
  3. Terhadap pembayaran gaji, tidak diperkenankan adanya potongan apa pun kecuali untuk potongan pajak, iuran asuransi, pensiun, dan lain-lain berdasarkan perjanjian sebelumnya dan/atau potongan koperasi Pegawai.

 

                                                                                                              Pasal 57

PENGHENTIAN PEMBAYARAN GAJI

 

  1. Penghentian pembayaran gaji terhadap Pegawai tetap bilamana:
    1. pegawai yang atas kemauan sendiri ingin memutuskan hubungan kerja dengan Yayasan harus mengajukan permohonan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelumnya. Bila permohonan disetujui, pembayaran gaji dihentikan sejak saat berlakunya pemutusan hubungan kerja dan kepadanya tidak diberikan uang pesangon, tetapi berhak atas uang pisah dan uang penggantian hak sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
    2. karena  suatu  pertimbangan  tertentu  Yayasan  menganggap  perlu  mengadakan  pemutusan hubungan kerja dengan seorang Pegawai, gaji Pegawai yang bersangkutan dibayar sampai dengan saat pelaksanaan pemutusan hubungan kerja. Penyampaian pemberitahuan PHK tersebut disampaikan 1 (satu) bulan sebelumnya dan pelaksanaannya.
    3. Penghentian pembayaran penghasilan (upah) terhadap Pegawai tidak tetap diatur dengan Peraturan Yayasan.

 

 

 

 

 

                                                                                                              Pasal 58

PEMELIHARAAN MATERIIL KESEJAHTERAAN

Yayasan menyediakan fasilitas dan sarana penunjang di lingkungan kampus STIE Surakarta antara
lain:

  1. sarana olahraga, tempat ibadah, gedung pertemuan, perpustakaan, dan lain-lain;
  2. bantuan tali asih;
  3. Yayasan  memberikan  kesempatan  kepada  Pegawai  untuk  melakukan  kegiatan  olahraga;  dan
  4. kesenian  sepanjang  tidak  mengganggu  aktivitas  kerja  dan  mendapat  izin  dari  atasan  yang bersangkutan. Yayasan akan membantu dan mendorong para Pegawai yang berprestasi di bidang olahraga dan kesenian baik secara moril maupun materiil;
  5. Yayasan menyediakan sarana peribadatan dan memberikan waktu kepada para Pegawai untukberibadah.

 

                                                                                                              Pasal 59

BANTUAN PINJAMAN DARURAT

 

  1. Pinjaman darurat dapat diberikan Yayasan kepada Pegawai, dengan tujuan membantu apabila Pegawai tersebut atau keluarga Pegawai memerlukan uang yang bersifat mendadak seperti untuk biaya pengobatan di Rumah Sakit atau lainnya yang didukung oleh bukti yang sah.
  2. Pinjaman darurat diberikan dengan pertimbangan kemanusiaan atas dasar suatu alasan yang sangat mendesak dan tidak dapat diperkirakan sebelumnya dengan memperhatikan:
    1. jenis kebutuhan;
    2. jabatan dan pangkat/golongan Pegawai;
    3. masa kerja;
    4. prestasi kerja; dan
    5. kondisi keuangan Yayasan.

 

  1. Permohonan pinjaman darurat diajukan melalui pembantu Ketua bidang keuangan untuk dipertimbangkan kesesuaiannya dengan ketentuan sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) dan 2 (dua) sebelum dimintakan persetujuan Ketua.
  2. Pinjaman darurat diberikan kepada Pegawai tetap.
  3. Pinjaman ini besarnya tidak boleh melebihi 2 (dua) bulan gaji dan harus sudah dilunasi paling lambat12 (dua belas) bulan dari tanggal pinjaman.
  4. Persetujuan pemberian pinjaman darurat adalah mutlak merupakan hak prerogatif, dan tidak dapatdiganggu gugat, di mana secara administratif dan prosedural pinjaman ini bukan merupakan fasilitas yang secara otomatis dapat diberikan kepada Pegawai.

 

                                                                                                              Pasal 60

BANTUAN DUKA CITA

  1. Bantuan dukacita adalah bantuan yang diberikan kepada Pegawai apabila Pegawai atau anggota keluarga atau orang tua kandung meninggal dunia, dapat berupa dana dan dukungan fasilitas (pengurusan jenazah, perlengkapan rumah duka, dan lain-lain).
  2. Dalam hal Pegawai yang meninggal dunia, bantuan diberikan kepada ahli waris yang sah.
  3. Dalam hal anggota keluarga atau orang tua kandung yang meninggal dunia, bantuan diberikankepada Pegawai yang bersangkutan.
  4. Besarnya bantuan duka cita diatur dalam ketentuan Yayasan tersendiri.

 

                                                                                                              Pasal 61

BANTUAN PERNIKAHAN

  1. Bantuan pernikahan adalah bantuan untuk pernikahan pertama yang dilaksanakan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku yang diberikan bagi Pegawai tetap.
  2. Bantuan diberikan apabila Pegawai yang menikah menyampaikan bukti-bukti berupa undangan pernikahan  atau  salinan  surat  nikah  kepada  pembantu  Ketua  bidang  administrasi  umum  dan keuangan.
  3. Besarnya bantuan diatur dalam ketentuan Yayasan tersendiri.

 

                                                                                                              Pasal 62

TUNJANGAN HARI RAYA

 

  1. Tunjangan Hari Raya diberikan bagi seluruh Pegawai berkenaan dengan hari raya keagamaan.
  2. Tunjangan Hari Raya diberikan kepada Pegawai yang telah merniliki masa kerja sekurangnya 6 (enam)bulan.
  3. Besarnya Tunjangan Hari Raya adalah mendekati 1 (satu) bulan penghasilan/gaji.
  4. Bila masa kerja Pegawai kurang dari 1 (satu) tahun, maka besarnya Tunjangan Hari Raya dihitungsecara proporsional.

 

                                                                                                              Pasal 63

 

  1. Pemeliharaan yang bersifat nonmateriil meliputi:
    1. pembinaan mental kerohanian;
    2. penghargaan; dan
    3. izin dan cuti.
    4. Penghargaan  sebagaimana  dimaksud  ayat 1  (satu)  huruf  b  antara  lain  penghargaan  karena pencapaian tingkat prestasi tertentu dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian sebagai Pegawai.
    5. Penghargaan dapat berupa kenaikan pangkat/golongan, kenaikan gaji berkala, bonus, dan/atauimbal prestasi, yang sepenuhnya diatur oleh Yayasan.

 

                                                                                                              Pasal 64

CUTI MELAHIRKAN

  1. Cuti melahirkan adalah hari-hari istirahat Pegawai yang diberikan selama 1 (satu) bulan sebelummelahirkan  dan 1 (satu)  bulan  setelah melahirkan  menurut  perhitungan  dokter/bidan  yangmenanganinya.
  2. Apabila Pegawai ingin mengambil cuti melahirkan di luar kondisi sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu), Pegawai tersebut wajib membuat surat pernyataan untuk menanggung sendiri segala resiko yang diakibatkan dari pengajuan cuti melahirkan, yang diketahui oleh atasan dan dilengkapi surat keterangan dari dokter yang merawat.
  3. Hari-hari istirahat Pegawai karena gugur kandungan hanya dapat diambil maksimum 1,5 (satu setengah)  bulan  sejak  kondisi  gugur  kandungan  terjadi  berdasarkan  surat  keterangan  dokter kandungan atau bidan yang merawatnya.
  4. Pengambilan cuti melahirkan tidak boleh dirangkai dengan cuti-cuti lainnya, namun dengan jarak sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan.
  5. Perpanjangan cuti melahirkan sampai maksimal 3 (tiga) bulan dapat diberikan berdasarkan keadaan yang dapat membahayakan Pegawai, atas dasar surat keterangan dari dokter dan berlaku ketentuan Gaji Selama Sakit. Dalam hal dibutuhkan perpanjangan cuti melahirkan lebih dari 3 (tiga) bulan, makan untuk bulan ke-4 (keempat) dan seterusnya akan diperhitungkan sebagai sakit berkepanjangan sebagamana diatur dalam Peraturan Kepegawaian.
  6. Cuti melahirkan dapat diambil dengan mengajukan surat permohonan cuti melahirkan minimal 2 (dua) minggu sebelum dimulainya cuti termaksud dan melampirkan surat keterangan dokter/bidan yang merawatnya.
  7. Hak cuti melahirkan tidak dapat diakumulasikan dengan hari-hari cuti lainnya yang berlaku di Yayasan (contoh: cuti massal yang jatuh pada saat cuti melahirkan).

 

                                                                                                              Pasal 65

CUTI SAKIT

 

  1. Pegawai yang tidak masuk kerja karena sakit lebih dari 2 (dua) hari wajib menyerahkan surat keterangan dokter yang menyatakan Pegawai tersebut memerlukan perawatan/istirahat di rumah, dan diberi cuti sakit sesuai dengan keterangan tersebut.
  2. Pegawai yang mengalami kecelakaan dan perlu menjalani perawatan berhak atas cuti sakit.
  3. Pegawai yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) dianggap izinbiasa yang diperhitungkan ke hak cuti tahunan.
  4. Selama menjalani cuti sakit, Pegawai mendapatkan Gaji Selama Sakit yang diatur dalam PeraturanKepegawaian ini.

 

                                                                                                              Pasal 66

IZIN MENINGGALKAN PEKERJAAN DENGAN GAJI

  1. Pegawai dapat diberi izin untuk meninggalkan pekerjaan dengan mendapat gaji untuk keperluan-keperluan sebagai berikut:
    1. pemikahan hingga 4 (empat) hari kerja;
    2. pernikahan anak sah hingga 4 (empat) hari kerja;
    3. istri sah melahirkan atau keguguran kandungan hingga 2 (dua) hari kerja;
    4. khitanan anak sah 1 (satu) hari kerja;
    5. kematian suami/istri, anak, orang tua hingga 4 (empat) hari kerja;
    6. kematian mertua, saudara kandung, menantu hingga 2 (dua) hari kerja;
    7. tertimpa musibah hingga 2 (dua) hari kerja;
    8. pernikahan kakak/adik kandung 1 (satu) hari kerja;
    9. haid hingga 2 (dua) hari kerja; dan
    10. pengurusan kepentingan pribadi lainnya hingga 2 (dua) hari kerja.
    11. Untuk kepentingan-kepentingan pribadi yang melebihi ketentuan di atas, yang dipandang layak, kepada Pegawai dapat diberikan izin meninggalkan pekerjaan yang akan diperhitungkan pada pembayaran gaji Pegawai yang bersangkutan sesuai ketentuan Yayasan.

 

 

 

 

                                                                                                              Pasal 67

IZIN KHUSUS KARENA PENUGASAN NEGARA

 

Izin khusus karena penugasan negara adalah izin yang diberikan kepada Pegawai untuk meninggalkan pekerjaan dengan mendapatkan gaji untuk keperluan-keperluan tertentu demi kepentingan nasional, regional, maupun intemasional sesuai dengan waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan penugasan tersebut yang dibuktikan dengan surat penunjukan/penugasan resmi dari Pemerintah.

 

                                                                                                              Pasal 68

IZIN MENUNAIKAN IBADAH HAJI ATAU UMROH

 

  1. Pegawai mendapat izin khusus untuk menunaikan ibadah haji atau umroh dengan tetap menerima gaji/penghasilan setelah paling sedikit mempunyai masa kerja terus-menerus selama 3 (tiga) tahun, dengan ketentuan:
    1. maksimal selama 40 (empat puluh) hari kerja untuk ibadah haji; dan
    2. maksimal selama 10 (sepuluh) hari kerja untuk ibadah umroh.
    3. Izin ini hanya berlaku 1 (satu) kali selama Pegawai bekerja di Yayasan.
    4. Pegawai yang akan menunaikan ibadah haji atau umroh wajib mengajukan ijin kepada Bagian Administrasi Umum dan Keuangan selambat-lambatnya satu bulan sebelumnya dengan melampirkan bukti-bukti yang mendukung rencana tersebut.

 

                                                                                                              Pasal 69

TIDAK MASUK KERJA TANPA KETERANGAN

  1. Pegawai yang tidak masuk kerja tanpa pemberitahuan/alasan yang jelas akan dianggap mangkir dan akan menerima tindakan disiplin sesuai ketentuan dalam Peraturan Kepegawaian.
  2. Pegawai yang tidak masuk kerja selama 3 (tiga) hari kerja berturut-turut tanpa pemberitahuan dengan disertai bukti yang sah, dan telah dipanggil oleh Ketua secara tertulis 2 (dua) kali, tetapi Pegawai yang bersangkutan tidak memenuhi panggilan tersebut dan/atau tidak dapat memberikan bukti tertulis perihal ketidak-hadirannya, Pegawai dianggap mengundurkan diri.

 

                                                                                                                Pasal 70

IZIN MENINGGALKAN PEKERJAAN PADA JAM KERJA

 

  1. Untuk kepentingan pribadi Pegawai yang  sifatnya mendesak, Pegawai dapat mengajukan izin meninggalkan pekerjaan pada jam kerja untuk jangka waktu maksimal 4 (empat) jam dalam 1 (satu) hari kerja, dan hanya dapat dilakukan maksimal 5 (lima) kali dalam 1 (satu) bulan.
  2. Permohonan izin sebagamana dimaksud ayat (1) diajukan kepada atasan langsung Pegawai.
  3. Atasan langsung dapat menolak untuk memberikan izin apabila alasan Pegawai tidak dianggap mendesak dan/atau akan mengganggu kegiatan operasional.
  4. Dalam hal Pegawai meninggalkan pekerjaan pada jam kerja tanpa pemberitahuan sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) dan 2 (dua) akan dianggap mangkir dan akan menerima tindakan disiplin sesuai ketentuan dalam Peraturan Kepegawaian.

 

 

BAB VIII

FASILITAS DAN KESEJAHTERAAN PEGAWAI

 

                                                                                                              Pasal 71

KOPERASI PEGAWAI

 

  1. Sebagai salah satu sarana penunjang ke arah peningkatan kesejahteraan, Pegawai dapat mengembangkan usaha bersama melalui pembentukan koperasi Pegawai.
  2. Pengelolaan koperasi Pegawai bersifat otonom dan mandiri yang kepengurusannya ditentukan dan dipilih oleh anggota, sedangkan Yayasan hanya bertindak sebagai Pembina.
  3. Yayasan sesuai dengan kemampuan turut mendorong dan membantu tumbuh dan berkembangnya koperasi Pegawai.

 

                                                                                                              Pasal 72

IBADAH

 

Untuk  melaksanakan  kegiatan  ibadah  sesuai  dengan  agamanya  masing-masing,  Pegawai  dapat menggunakan tempat yang tersedia di area kerja selama tidak mengganggu kegiatan kerja, kampus, perkuliahan, dan umum.

 

                                                                                                              Pasal 73

KARTU TANDA PENGENAL

 

  1. Pegawai mendapatkan kartu tanda pengenal sebagai Pegawai Yayasan dan STIE Surakarta.
  2. Kartu tanda pengenal wajib dikenakan pada waktu kerja, dan bagi yang melanggar dikenakan sanksisesuai ketentuan Peraturan Kepegawaian.

 

 

                                                                                                              Pasal 74

KESELAMATAN KERJA

 

  1. Yayasan menyediakan peralatan dan keselamatan kerja sesuai dengan kebutuhan tugas dan ruanglingkup kerja Pegawai dan pertimbangan Yayasan.
  2. Setiap Pegawai wajib menjaga keselamatan dirinya dan Pegawai lainnya dan wajib memakai alat-alat keselamatan  kerja  yang  telah  disediakan  oleh  Yayasan,  serta  mengikuti/mematuhi  ketentuan mengenai keselamatan kerja dan perlindungan kerja yang berlaku.
  3. Apabila  Pegawai  menemukan  hal-hal  yang  dapat  membahayakan  keselamatan  Pegawai  dan Yayasan, Pegawai harus segera melaporkan hal tersebut kepada atasannya.
  4. Pegawai wajib memelihara dan menjaga alat-alat/perlengkapan keselamatan kerja dengan baik dan teliti.
  5. Pegawai  diwajibkan  selalu  menjaga  kebersihan,  kerapihan,  dan  ketertiban  tempat  kerja  dan lingkungan kerja dengan sebaik-baiknya.
  6. Demi kesehatan dan keselamatan Pegawai, Pegawai dilarang merokok di area kerja, kecuali di tempat yang disediakan oleh Yayasan.

 

 

 

 

 

BAB VIII

PERJALANAN DINAS

                                                                                                              Pasal 75

PERJALANAN DINAS

 

  1. Perjalanan dinas adalah  setiap perjalanan dalam rangka melaksanakan pekerjaan/tugas untuk kepentingan Yayasan/STIE Surakarta, baik perjalanan di dalam negeri maupun luar negeri.
  2. Yayasan/ STIE Surakarta membayarkan biaya-biaya perjalanan dinas kepada Pegawai yang mendapat  tugas  ke  luar  daerah  atau  ke  luar  negeri  berdasarkan  surat  tugas  tertulis  dari Ketua/pimpinan yang berwenang, meliputi:
    1. biaya transportasi ke dan dari tempat tujuan serta transportasi lokal;
    2. biaya bahan bakar bila perjalanan dinas menggunakan kendaraan dinas;
    3. biaya untuk airport tax dan biaya lain yang berhubungan sepanjang biaya tersebut wajar dengan          menyertakan bukti/kuintasi pengeluarannya;
    4. biaya penginapan;
    5. uang makan; dan
    6. uang saku.
    7. Untuk perjalanan dinas dalam negeri, biaya penginapan, uang makan dan uang saku diberikanberdasarkan kota yang dituju, jabatan, dan pangkat/golongan Pegawai.
    8. Untuk perjalanan dinas luar negeri, uang makan dan uang saku diberikan berdasarkan pada negarayang dituju.
    9. Ketentuan lebih lanjut mengenai besaran biaya dinas ditetapkan secara tersendiri oleh Yayasan atasusul Ketua.

 

BAB IX

KEWAJIBAN & KODE ETIK

 

                                                                                                              Pasal 76

KEWAJIBAN YAYASAN

 

Yayasan memiliki kewajiban sebagai berikut:

  1. memberikan pekerjaan yang layak kepada Pegawai sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya selama waktu bekerja;
  2. membayar  gaji  dan  honor  beserta  tunjangan-tunjangannya,  uang  lembur,  dan  penghasilan-penghasilan lain sesuai yang tercantum dalam peraturan penggajian dan Perjanjian Kerja Pegawai;
  3. ketenangan kerja di Yayasan/STIE Surakarta, serta memperhatikan kesejahteraan Pegawai;
  4. memberikan kesempatan bagi Pegawai untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan;
  5. memberikan kesempatan bagi Pegawai untuk mengembangkan karier;
  6. memperhatikan dan memelihara kesehatan serta keselamatan kerja Pegawai dengan memberikan jaminan   kepada   Pegawai   sebagai   akibat   kecelakaan   yang   dialami   dalam   melaksanakan pekerjaannya dan jaminan pelayanan kesehatan melalui fasilitas BPJS;
  7. memberikan jaminan kematian, jaminan hari tua, dan jaminan pensiun kepada Pegawai;
  8. memberikan hak-hak Pegawai sesuai dengan yang ditetapkan oleh Yayasan;
  9. memperhatikan kesejahteraan Pegawai  sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam Peraturan Kepegawaian dengan tetap memperhatikan kondisi keuangan Yayasan, meliputi bantuan uang duka, bantuan pernikahan, dan fasilitas lainnya;

 

 

                                                                                                              Pasal 77

KEWAJIBAN DOSEN

 

Dosen memiliki kewajiban sebagai berikut:

  1. sadar, patuh, taat, dan jujur dalam melaksanakan kewajiban yang dituntut oleh Yayasan serta berusaha berprestasi dan selalu menjaga, meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja, serta sesuai petunjuk kerja dan atau petunjuk-petunjuk atasannya;
  2. absensi menggunakan finger print;
  3. melaksanakan pekerjaannya dengan penuh rasa tanggung jawab;
  4. merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai danmengevaluasi hasil pembelajaran secara objektif;
  5. meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutansejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi;
  6. bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku ras dankondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi peserta didik dalampembelajaran;
  7. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik, serta nilai-nilai agama danetika;
  8. menjaga, memelihara dan melindungi dengan sebaik-baiknya semua peralatan kerja dan harta milikYayasan dan menggunakannya dengan rasa tanggung jawab untuk kepentingan yang berhubungandengan tugasnya;
  9. membaca dan mengetahui pengumuman/pemberitahuan resmi yang dikeluarkan oleh Yayasan/STIE Surakarta;
  10. mentaati ketentuan kerja, seperti hadir mengajar tepat waktu dan memenuhi SKS/tatap muka sesuaiketentuan yang berlaku;
  11. hadir pada setiap menerima undangan rapat, baik yang diselenggarakan baik oleh Yayasan maupunSTIE Surakarta;
  12. meningkatkan karier akademik dalam hal penyetaraan jabatan fungsional;
  13. menciptakan  dan  memelihara  suasana  kerja  yang  tenang,  tertib  dan  baik,  serta  memeliharakebersihan dan kerapian lingkungan tempat bekerja masing-masing;
  14. saling menghormati sesama sivitas akademika dan selalu memperingatkan teman sejawat yang melakukan tindakan tidak terpuji/tercela;
  15. menjunjung tinggi nama baik Yayasan dan STIE Surakarta serta menghormati dan santun kepadaatasan dan sesama Pegawai; dan
  16. mematuhi semua peraturan dan tata tertib yang berlaku di Yayasan dan STIE Surakarta.

 

 

 

 

 

                                                                                                              Pasal 78

KEWAJIBAN TENAGA KEPENDIDIKAN

 

Tenaga kependidikan  memiliki kewajiban sebagai berikut:

  1. sadar, patuh, taat, dan jujur dalam melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab  pekerjaan,  serta  berusaha  berprestasi  dan  selalu  menjaga, meningkatkan  efisiensi  dan efektivitas kerja, serta sesuai petunjuk kerja dan atau petunjuk-petunjuk atasan;
  2. absensidengan finger print;
  3. melaksanakan pekerjaannya dengan penuh rasa tanggung jawab;
  4. tidak meninggalkan pekerjaan sebelum selesai jam kerja, kecuali dengan izin khusus atau tugas diluar;
  5. mentaati perintah dan petunjuk yang layak dari atasan yang berwenang dan melaksanakan tugaspekerjaan dengan sebaik-baiknya, penuh kesadaran, dan rasa tanggung jawab;
  6. melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan berbagai pelayanan dalam mendukung kegiatanakademik dan administratif;
  7. menjaga, memelihara dan melindungi dengan sebaik-baiknya semua peralatan kerja dan harta milikYayasan/ STIE Surakarta, dan menggunakannya dengan rasa tanggung jawab untuk kepentinganyang berhubungan dengan tugasnya;
  8. membaca dan mengetahui pengumuman/pemberitahuan resmi yang dikeluarkan oleh Yayasan/STIE Surakarta;
  9. menghadiri undangan yang diselenggarakan baik oleh Yayasan maupun STIE Surakarta.
  10. mentaati ketentuan kerja sesuai ketentuan yang berlaku;
  11. menciptakan  dan  memelihara  suasana  kerja  yang  tenang,  tertib  dan  baik,  serta  memeliharakebersihan dan kerapian lingkungan tempat bekerja masing-masing;
  12. menjunjung tinggi nama baik Yayasan dan STIE Surakarta serta menghormati dan santun kepadaatasan dan sesama Pegawai; dan
  13. mematuhi semua peraturan dan tata tertib yang berlaku di Yayasan dan STIE Surakarta.

 

                                                                                                              Pasal 79

HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

 

  1. Pegawai yang menghasilkan suatu penemuan baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan Pegawai lain dan atau dengan pihak lain yang dibiayai oleh STIE Surakarta, penemuan tersebut terkait serta dapat dikembangkan untuk kepentingan STIE Surakarta, maka penemuan tersebut menjadi milik tunggal yang sah dari STIE Surakarta, dan Pegawai tersebut wajib melaporkan segala sesuatu yang bersangkutan dengan penemuannya kepada Ketua dan Ketua atas usulan Pegawai yang bersangkutan memutuskan penemuan tersebut layak dan bisa mendapat perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dari pihak yang berwenang.
  2. Segala hal berkaitan dengan prosedur,  syarat, ketentuan mengenai Hak Kekayaan Intelektual termasuk kompensasi/royalti yang berhubungan dengan Hak Kekayaan Intelektual tersebut akan diatur dalam ketentuan Ketua.
  3. Sehubungan  dengan  Hak  Kekayaan  Intelektual,  Pegawai  dilarang  melakukan  perbuatan  yangmerugikan nama baik Yayasan/ STIE Surakarta.

 

 

                                                                                                                      Pasal 80

KODE ETIK DOSEN

 

  1. Etika umum Dosen sebagai berikut:
    1. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
    2. berfikir,  bersikap  dan  berperilaku  sebagai  masyarakat  ilmiah  dan  selalu  mendahukan kepentingan Yayasan/STIE Surakarta di atas kepentingan pribadi dan golongan;
    3. memegang teguh rahasia jabatan/akademik, serta tidak menyalahgunakan wewenang jabatan;
    4. disiplin, jujur, inovatif, tekun, ulet, bersemangat, dan bertanggung jawab, serta menghindarkan      diri dari perbuatan tercela antara lain mengubah nilai ujian mahasiswa tanpa mengikuti prosedur
      dan melakukan perbuatan plagiat;
    5. tidak menggunjingkan dan perprasangka buruk terhadap rekan kerja;
    6. mendukung program pengembangan STIE Surakarta;
    7. memberikan teladan baik bagi mahasiswa dalam bidang keprofesionalan agar dapat mengantar peserta didik untuk memasuki lingkungan masa depannya maupun lingkungannya;
    8. terbuka untuk menerima kebenaran, bersikap mawas diri, berani bertanggung jawab dan dapat menjadi teladan di lingkungannya;
    9. bersikap tanggap dan terbuka terhadap perubahan dan peduli terhadap lingkungan;
    10. menjaga dan meningkatkan kegairahan dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi,efektif dalam memanfaatkan waktu serta bersikap proaktif;
    11. selalu berusaha mengembangkan dirinya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guna menunjang profesinya sebagai pengajar;
    12. menolak dan tidak menerima sesuatu pemberian yang nyata-nyata diketahui dan patut diduga langsung atau tidak langsung yang berhubungan dengan profesi sebagai tenaga akademik;
    13. senantiasa menjaga kebersihan dan kerapian meja dan ruang kerjanya; dan
    14. tidak merokok dalam ruang kantor dan merokok hanya di tempat yang telah disediakan.
    15. Etika Dosen dalam melaksanakan pendidikan sebagai berikut:
      1. senantiasa berusaha menambah ilmu yang dimilikinya serta meningkatkan mutu pengajaran sebagai perwujudan tanggung jawabnya untuk membawa subjek didiknya memasuki peradaban yang lebih maju di masa yang akan dating;
      2. selalu mengikuti perkembangan dan mengamalkan ilmu pengetahuan sesuai dengan bidangnya sebagai anggota sivitas akademika dan sebagai masyarakat cendikia;
      3. merencanakan materi kuliah dan penugasan kepada mahasiswa serta aturan bagi mahasiswa yang mengikuti kuliahnya sebelum kuliah semester tertentu dimulai. Perencanaan tersebut dituangkan ke dalam RPS rinci yang dibagikan kepada mahasiswa sebelum kuliah semester tertentu dimulai dan diadministrasikan oleh Jurusan yang berkaitan;
      4. senantiasa melakukan pembaruan atas sumber acuan yang dipakai dalam pemberian kuliah di kelas untuk menyesuaikan tuntutan dunia pendidikan yang senantiasa berubah dan berkembang;
      5. terbuka untuk menerima pertanyaan mengenai pelajaran/bahan perkuliahan yang diajarkannya dan responsif terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan baik di dalam kelas maupun di tempat lain;
      6. membimbing mahasiswa untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan sesuaidengan ketentuan yang berlaku;
      7. terbuka terhadap perbedaan pendapat dengan mahasiswa mengingat senantiasa terdapatnyaperubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan;
      8. mengevaluasi hasil pengajaran (ujian dan bentuk penugasan lain) secara jujur dan konsisten sesuai dengan ketentuan yang berlaku, serta mencerminkan komitmen mahasiswa atas RPSyang disusunnya;
      9. memiliki komitmen tinggi terhadap waktu baik dalam menjalankan tugas sebagai dosen di depan kelas maupun sebagai pembimbing mahasiswa di luar kelas, sesuai dengan kalender akademik yang ditetapkan;
      10. menghargai mahasiswa dengan memberitahukan sebelumnya apabila memberikan pembatalan komitmen waktu tatap muka di kelas atau komitmen waktu yang telah dijanjikan mahasiswa, baik dalam memberikan layanan di luar acara tatap muka, di kelas, maupun dalam bimbingan skripsi/ laporan tugas akhir;
      11. menyediakan waktu konsultasi bagi mahasiswa di luar waktu tatap muka terjadwal di kelas. Di luar waktu yang telah disediakan, pertemuan antara dosen dengan mahasiswa dilaksanakan terlebih dahulu dengan pembuatan janji;
      12. memperlakukan mahasiswa sebagai manusia dewasa yang memiliki potensi tinggi untuk menjadi pemimpin bangsa. Dosen memperlakukan mahasiswa secara sama (equal right dan equal opportunity) tanpa memandang status sosial, agama, ras dan pandangan politik mahasiswa;
      13. merupakan panutan bagi mahasiswa sebagai figur yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan; dan
      14. tidak merokok dalam ruang kelas.

 

  1. Etika Dosen dalam melaksanakan penelitian dan pengabdian pada masyarakat sebagai berikut:
    1. senantiasa berusaha menambah ilmu yang dimilikinya serta meningkatkan mutu penelitian dan pengabdian  masyarakat  sebagai  perwujudan  tanggung  jawabnya  untuk  membawa  subjek penelitian dan pengabdiannya memasuki peradaban yang lebih maju di masa yang akan datang;
    2. bersikap jujur dalam arti:

1)         hanya mempublikasikan hasil karya yang sejauh kesadarannya merupakan pekerjaan yang orisinil;

2)         tidak mengadopsi skripsi, tesis, disertasi, atau karya mahasiswa di bawah bimbingannya sebagai hasil karya yang dilakukan sendiri;

3)         pencantuman nama sebagai salah seorang penulis suatu artikel harus disesuaikan dengan kontribusi  yang  telah  diberikannya  dalam  pemikiran,  pengerjaan,  dan  penulisan  artikel tersebut;

4)         tidak mempublikasikan suatu karya atas namanya berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari pekerjaan penelitian orang lain yang belum dipublikasikan;

5)         dapat meminta informasi kepada pihak lain dengan syarat menyebutkan tujuan informasi tersebut dan sedapat mungkin memberikan penghargaan kepada pemberi informasi;

6)         menolak suatu pekerjaan yang diketahuinya bersifat tidak pantas dan tidak layak untuk dilakukan;

7)         diharapkan hanya menerima pekerjaan yang memungkinkan dirinya untuk memberi kontribusi nyata;

8)         tidak menghilangkan atau mencantumkan nama seseorang untuk suatu pekerjaan tanpa diketahui oleh yang bersangkutan;

9)         menerima imbalan sesuai dengan hak dan jerih payah yang dilakukannya; dan

10)      tidak mempublikasikan karya yang sama berulang-ulang.

 

  1. menghargai kompetensi bidang keahlian dalam arti:

1)         dalam mengerjakan pekerjaan yang bersifat multidisiplin seyogianya melibatkan secara nyata pakar di bidang yang bersesuaian;

2)         menerima tawaran suatu pekerjaan yang berada di bidang keahlian dan kompetensinya;

3)         apabila karena suatu hal ia menerima suatu pekerjaan di luar bidang keahliannya hendaknya ia melibatkan orang yang memiliki keahlian atau kompetensi yang sesuai atau minimal menyampaikan pemberitahuan kepada orang tersebut; dan

4)         dengan diterimanya pekerjaan sejauh kemampuannya, ia harus menghasilkan karya dengan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.

  1. menjunjung tinggi objektivitas dan tanggung jawab ilmiah dan sosial dalam arti

1)         melaksanakan suatu pekerjaan, senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai akademik;

2)         dalam pelaporan suatu pekerjaan secara lisan atau tulisan, senantiasa mengacu kepada kebenaran ilmiah dan objektivitas; dan

3)         suatu kesimpulan yang mempunyai dampak yang serius terhadap keselamatan umum harus segera dipublikasikan secara bijak, dengan memperhatikan tanggungjawab sosial.

4)         Etika Dosen dalam pergaulan di lingkungan kerja sebagai berikut:

a)          berkewajiban menghormati/menghargai sesama sivitas akademika;

b)         menggunakan  salam  perjumpaan        ”selamat  pagi/siang/sore/malam”  atau  salam  lain  seperti “Assalamualaikum” yang lazim digunakan di lingkungannya dengan sesama sivitas akademika pada pertama kali berjumpa sebagai sopan santun pergaulan;

c)          sapaan yang digunakan kepada mahasiswa di lingkungan kampus atau di lingkungan kerja kampus ialah ”Saudara” atau ”Anda”, sapaan lain seperti: ”Kamu, Engkau, Mas” hendaknya digunakan secara terbatas;

d)         sapaan yang digunakan sesama Pegawai (dalam perannya sebagai teman sekerja) adalah ”Bapak, Ibu, Pak, Bu, Saudara, Anda”. Sapaan lain seperti “Kamu, Engkau, Mas” hendaknya digunakan secara terbatas;

e)          kata ganti diri yang digunakan dalam berkomunikasi formal dengan mahasiswa dan Pegawai adalah ”Saya”, kata ganti nama diri ”Aku, Gue, Gua, Bapak” hendaknya digunakan secara terbatas; dan

f)           mengindahkan norma-norma kesopanan dan kepatutan dalam menyampaikan pandangan dan menyampaikan aspirasi profesi disamping mematuhi hierarki dan aturan akademik.

5)         Etika Dosen dalam berpakaian sebagai berikut:

a)      pakaian harus disesuaikan dengan peran yang disandang oleh tenaga pengajar pada waktu melaksanakan peran tersebut;

b)     pakaian di kantor dan di kelas adalah pakaian formal untuk mencerminkan citra profesional dan terhormat;

c)      pakaian formal bagi pria yang mencerminkan citra profesional dan terhormat adalah celana panjang dan hem dengan sepatu formal. Pakaian formal bagi wanita yang mencerminkan citradandanan wajah serta rambut yang disesuaikan dengan pakaian yang dikenakan; dan

d)     pakaian Pegawai harus senantiasa dijaga kebersihan dan kerapihannya selama menjalankan tugas.

 

 

PASAL 81

 

KODE ETIK TENAGA KEPENDIDIKAN

 

1)   Etika umum Tenaga kependidikan sebagai berikut:

 

a)    bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

b)   mendahulukan kepentingan Yayasan daripada kepentingan pribadi dan golongan;

c)    memegang teguh rahasia jabatan serta tidak menyalahgunakan wewenang jabatan;

d)   disiplin, jujur, inovatif, tekun, ulet, bersemangat, dan bertanggung jawab serta menghindari perbuatan tercela;

e)    tidak menggunjingkan dan perprasangka buruk terhadap rekan kerja;

f)     bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan Yayasan dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Surakarta;

g)    menghormati sesama Pegawai dan selalu berusaha memperingatkan teman sejawat yang melakukan tindakan tidak terpuji/ tercela;

 

h)   saling menghormati antara sesama Pegawai dalam pelaksanaan ibadah sesuai agamanya masing-masing;

i)     mendukung program pengembangan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Surakarta;

j)     selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimiliki guna menunjang tugasnya sebagai Pegawai;

k)   senantiasa bekerja keras untuk kelancaran pelaksanaan tugas;

l)     bersikap terbuka terhadap perubahan dan peduli terhadap lingkungan;

m)  menjaga dan meningkatkan kegairahan dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, efektif dalam memanfaatkan waktu serta bersikap proaktif; dan

n)   menolak dan tidak menerima sesuatu pemberian yang nyata-nyata diketahui dan patut diduga langsung atau tidak langsung yang berhubungan dengan jabatan.

 

2)   Etika Tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas sebagai berikut:

a)    memiliki komitmen tinggi terhadap waktu, yaitu dengan bekerja tepat waktu sesuai dengan keharusan dan dijanjikan, serta memberitahukan sebelumnya apabila komitmen waktu yang dijanjikan tidak dapat ditepati;

 

b)   memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada semua pihak dengan mempertimbangkan tingkat kepentingannya, tanpa membedakan status sosial, agama, ras, dan pandangan politik yang dilayani;

 

c)    tidak merokok di ruangan kantor dan merokok hanya di tempat yang telah disediakan;

d)   memelihara sarana dan prasarana, kebersihan, keindahan, ketertiban dan keamanan lingkungan kerja;

e)    senantiasa menjaga kebersihan dan kerapian meja dan ruang kerjanya;

f)     senantiasa berusaha meningkatkan mutu pelaksanaan tugasnya dari waktu ke waktu;

g)    terbuka untuk menerima kebenaran, bersikap mawas diri, berani bertanggung jawab dan dapat menjadi tauladan di lingkungannya; dan

h)   menghargai pendapat orang lain, teliti, rendah hati dan selalu berhati-hati dalam mengemukakan pendapat.

3)   Etika Tenaga kependidikan dalam pergaulan di lingkungan kerja sebagai berikut:

a)    selalu menjaga sikap menghormati/menghargai sesama Pegawai dan sivitas akademika di lingkungannya;

b)   menggunakan salam perjumpaan ”Selamat pagi/siang/sore/ malam atau salam lain yang lazim digunakan di lingkungannya seperti “Assalamu’alaikum” dengan sesama Pegawai dan sivitas akademika pada pertama kali berjumpa sebagai sopan santun pergaulan;

 

c)    sapaan yang digunakan kepada mahasiswa di lingkungan kampus atau di luar kampus adalah ”Saudara, Anda”. Sapaan lain seperti ”Kamu, Engkau, Mas” hendaknya digunakan secara terbatas;

 

 

d)   sapaan yang digunakan kepada sesama Pegawai (dalam perannya sebagai teman sekerja) adalah ”Bapak, Ibu, Pak, Bu”. Sapaan lain seperti ”Anda, Kamu, Engkau, Mas” hendaknya digu-nakan secara terbatas; dan

e)    kata ganti diri yang digunakan dalam berkomunikasi formal dengan mahasiswa, Dosen, dan sesame Pegawai adalah ”Saya”. Kata ganti nama diri “Aku, Gue, dan Gua” kurang mencer-minkan penghargaan Pegawai kepada mahasiswa dan Dosen, oleh karena itu peng-gunaannya perlu dihindari oleh Pegawai.

4)   Etika Tenaga kependidikan dalam berpakaian sebagai berikut:

a)    pakaian harus disesuaikan dengan peran yang disandangnya pada waktu pakaian tersebut dikenakan;

b)   pakaian Pegawai di ruang kantor adalah pakaian formal atau seragam kerja untuk mencerminkan citra profesional dan terhormat. Pakaian Pegawai yang bekerja di lapangan disesuaikan dengan kondisi lapangan tempat bertugas;

 

c)    pakaian formal bagi pria adalah celana panjang dang kemeja serta sepatu formal. Pakaian formal wanita adalah rok dan blouse atau ditambah blazer, bagi wanita yang berjilbab dapat menggunakan setelan rok panjang, celana panjang, atau baju kurung, dengan sepatu formal dan dandanan wajah serta rambut yang disesuaikan dengan pakaian yang dikenakan; dan

 

d)   pakaian Pegawai harus senantiasa dijaga kebersihan dan kerapihannya selama menjalankan tugas.

 

 

BAB X

DISIPLIN DAN TINDAKAN DISIPLIN

 

Pasal 82

DISIPLIN DAN TINDAKAN DISIPLIN

  1. Disiplin yang baik timbul karena adanya sikap saling menghormati dan penuh pengertian terhadap hak-hak dan tanggung jawab antara Yayasan dengan Pegawai dan sebaliknya. Dengan adanya disiplin yang baik, akan terjalin hubungan kerja yang harmonis antara Yayasan dengan Pegawai dan sebaliknya, begitu juga antar-Pegawai itu sendiri.
  2. Penegakkan disiplin dilakukan dengan tindakan disiplin yang dilakukan oleh Yayasan melalui Ketua kepada Pegawai.
  3. Tindakan  disiplin  sebagaimana  dimaksud  ayat  2        (dua)  bersifat  pembinaan,  perbaikan,  dan pendidikan.
  4. Dikecualikan  bagi  pelanggaran  yang  termasuk  kategori  berat  dan  tidak  memungkinkan  untuk diadakan  pembinaan,  perbaikan,  dan  pendidikan  sebagaimana  dimaksud  ayat 3  (tiga),  maka Yayasan  dapat menggunakan haknya untuk mengakhiri hubungan kerja Pegawai berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Kepegawaian dan perundang-undangan yang berlaku.

 

Pasal 83

DASAR TINDAKAN DISIPLIN

Dasar pengenaan tindakan disiplin yaitu:

  1. ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Kepegawaian, Peraturan Yayasan, dan/atau Peraturan Ketua;
  2. jenis pelanggaran;
  3. pengulangan pelanggaran;
  4. tingkat pelanggaran; dan
  5. unsur pidana.

 

 

Pasal 84

JENIS SANKSI

 

  1. Jenis sanksi yang dapat dikenakan oleh Yayasan kepada Pegawai yang melakukan pelanggaran sebagaimana diatur dalam Peraturan Kepegawaian ini adalah sebagai berikut:
    1. sanksi administrasi;
    2. sanksi demosi;
    3. sanksi skorsing;
    4. sanksi ganti rugi; dan
    5. sanksi pemutusan hubungan kerja (PHK).
    6. Pemberian sanksi secara berjenjang sebagai berikut:
      1. sanksi administrasi, secara berjenjang terdiri atas:

1)         peringatan lisan (tercatat);

2)         surat peringatan pertama;

3)         surat peringatan kedua; dan

4)         surat peringatan ketiga;

  1. sanksi skorsing; dan
  2. sanksi PHK
  3. Jenis sanksi sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) dapat diberikan secara berjenjang sebagaimana dimaksud ayat 2 (dua), tidak berjenjang, dan/atau bersamaan sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.

 

Pasal 85

SANKSI ADMINISTRASI

 

  1. Sanksi administrasi memiliki masa berlaku 6 (enam bulan).
  2. Apabila selama masa berlakunya sanksi administrasi sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) Pegawai yang bersangkutan melakukan pengulangan terhadap jenis pelanggaran yang sama atau melakukan jenis pelanggaran lainnya sebagaimana tercantum dalam Peraturan Kepegawaian ini, maka kepada Pegawai yang bersangkutan dikenakan sanksi yang berikutnya atau lainnya secara berjenjang atau tidak berjenjang sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.
  3. Akibat dari sanksi administrasi, maka Pegawai dikenakan hal-hal sebagai berikut:
    1. Penundaan kenaikan gaji berkala untuk jangka waktu secepat-cepatnya 6 (enam) bulan dan selama-lamanya 1 (satu) tahun sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan sejak periode kenaikan gaji berkala seharusnya dilakukan;
    2. Penundaan kenaikan pangkat/golongan berkala untuk jangka waktu secepat-cepatnya 6 (enam) bulan dan selama-lamanya 1 (satu) tahun sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan sejak periode kenaikan pangkat/golongan berkala seharusnya dilakukan; dan
    3. Dalam   hal   sanksi   administrasi   diberikan   kepada   Dosen,   maka   penundaan   kenaikan pangkat/golongan berkala sebagaimana dimaksud ayat 3 (tiga) huruf b atas persetujuan Senat.

 

 

 

 

 

 

 

Pasal 86

 

SANKSI DEMOSI

 

  1. Sanksi  demosi  berupa  penurunan  pangkat/golongan  sekurang-kurangnya    1  (satu)  tingkat  dan sebanyak-banyaknya 2 (dua) tingkat sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.
  2. Dalam hal pelanggaran dilakukan oleh Dosen, maka sanksi demosi sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) atas persetujuan Senat dan ditetapkan oleh Yayasan berdasarkan inpassingnya.

 

                                                                                                              Pasal 87

SANKSI SKORSING

 

  1. Sanksi skorsing diberikan sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan dan selama-lamanya 6 (enam) bulansesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.
  2. Dalam hal pelanggaran dilakukan oleh Dosen, maka sanksi skorsing sebagaimana dimaksud ayat 1(satu) atas persetujuan Senat.
  3. Selama masa skorsing, Pegawai berhak mendapatkan upah sesuai ketentuan perundang-undanganyang berlaku.
  4. Untuk  kembali  bekerja  setelah  menyelesaikan  masa  skorsing,  Pegawai  harus  menyerahkan pernyataan tertulis tidak akan mengulang pelanggaran yang sama atau melakukan pelanggaran lainnya yang dikenakan sanksi skorsing.
  5. Dalam hal Pegawai tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud ayat 4 (empat), maka kepada Pegawai yang bersangkutan dikenakan sanksi berikutnya secara berjenjang.
  6. Dalam hal Pegawai mengulang pelanggaran yang sama sebagaimana dimaksud pernyataan tertulis yang dibuatnya atau melakukan pelanggaran lainnya yang dikenakan sanksi skorsing, maka kepada Pegawai yang bersangkutan dikenakan sanksi PHK.

 

                                                                                                              Pasal 88

SANKSI GANTI RUGI

 

  1. Sanksi ganti rugi diberikan apabila pelanggaran Pegawai mengakibatkan kerugian bagi Yayasan.
  2. Sanksi ganti rugi dibayarkan oleh Pegawai secara sekaligus atau secara bertahap sesuai dengankebijakan Yayasan.

 

                                                                                                              Pasal 89

MEKANISME PEMBERIAN SANKSI

 

  1. Apabila terdapat indikasi atau ditemukan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh Pegawai, Ketua berhak memanggil dan melakukan pemeriksaan terhadap Pegawai yang bersangkutan.
  2. Sanksi  diberikan  sesuai  ketentuan  dalam  Peraturan  Kepegawaian  dan  dapat  diberikan  tanpa mengikuti jenjang pemberian sanksi.
  3. Mekanisme pemberian sanksi ganti rugi diatur lebih lanjut dalam ketentuan Yayasan.
  4. Peningkatan sanksi dapat dilakukan dengan memperhatikan dasar tindakan disiplin dan tingkat pelanggaran yang dilakukan sebagaimana diatur dalam Peraturan Kepegawaian ini.
  5. Apabila segala upaya dalam hal pembinaan dan perbaikan melalu tindakan disiplin tidak membawa perubahan yang baik bagi Pegawai, maka Yayasan berhak melakukan pengakhiran hubungan kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

                                                                                                              Pasal 90

TINGKAT PELANGGARAN

 

Tingkat pelanggaran terbagi lima, yakni:

  1. pelanggaran tingkat I (pertama);
  2. pelanggaran tingkat II (kedua);
  3. pelanggaran tingkat III (ketiga);
  4. pelanggaran tingkat IV (keempat); dan
  5. pelanggaran tingkat V (kelima).

 

                                                                                                              Pasal 91

PELANGGARAN TINGKAT I (PERTAMA)

 

  1. Pelanggaran tingkat I (pertama) merupakan pelanggaran kategori ringan.
  2. Kepada Pegawai yang melakukan pelanggaran tingkat I (pertama) akan diberikan peringatan lisan oleh atasan langsung Pegawai yang ditembuskan kepada Bagian Administrasi Umum dan Keuangan dan dicatat dalam buku pembinaan Pegawai.
  3. Pelanggaran tingkat I (pertama) apabila Pegawai melakukan tindakan sebagai berikut:
    1. tidak masuk kerja tanpa pemberitahuan/penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan;
    2. 2 (dua) kali berturut-turut atau 4 (empat) kali tidak berturut-turut dalam 1 (satu) bulan datang terlambat atau pulang lebih awal tanpa pemberitahuan;
    3. 2 (dua)  kali  berturut-turut  atau        4        (empat)  kali  tidak berturut-turut  dalam 1 (satu)  bulanmeninggalkan pekerjaan dan tempat kerja (tidak berada di tempat) pada jam kerja lebih dari 1 (satu) jam tanpa izin atasan;
    4. mengganggu tugas/pekerjaan orang lain;
    5. tidak memakai seragam kerja yang ditentukan pada hari yang ditentukan;
    6. merokok baik dalam jam kerja maupun di luar jam kerja pada area dilarang merokok dalam lingkungan Yayasan/ STIE Surakarta;
    7. dengan sengaja mengabaikan kebersihan pada area kerjanya;
    8. dengan sengaja menolak melakukan absensi pada waktu jam masuk kerja dan/atau pada waktu jam pulang kerja;
    9. dengan sengaja tidak mengikuti rapat atau pertemuan yang telah diagendakan dan diberitahukan tanpa alasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan;
    10. tidak mengenakan kartu identitas pegawai selama jam kerja dan di lingkungan Yayasan/ STIE Surakarta; atau
    11. melakukan tindakan yang dikategorikan tidak sopan terhadap atasan, tamu, sesama Pegawai, atau pun Mahasiswa.

 

 

                                                                                                              Pasal 92

PELANGGARAN TINGKAT II (KEDUA)

 

  1. Pelanggaran tingkat II (kedua) merupakan pelanggaran kategori sedang.
  2. Kepada Pegawai yang melakukan pelanggaran tingkat II (kedua) akan diberikan surat peringatan I (pertama) oleh atasan Pegawai minimal setingkat kepala bagian yang ditembuskan kepada Bagian Administrasi Umum dan Keuangan dan dicatat dalam buku pembinaan Pegawai.
  3. Pemberian surat peringatan I (pertama) berakibat sebagai berikut:
    1. penundaan kenaikan gaji berkala selama 6 (enam) bulan;

Misal: apabila periode kenaikan gaji berkala Pegawai dilakukan pada bulan Januari 2016, sedangkan Pegawai yang bersangkutan diberikan surat peringatan I (pertama) pada bulan April 2015, maka tidak ada kenaikan gaji berkala sampai Juli 2016 dan tidak diberlakukan rapel untuk periode kenaikan gaji berkala Juli 2016; dan

  1. pengurangan bonus tahunan sebesar 25% (dua puluh lima per seratus) dari jumlah yang seharusnya diterima.
  2. Pelanggaran tingkat II (kedua) apabila Pegawai melakukan tindakan sebagai berikut:
    1. pengulangan atas pelanggaran tingkat I (pertama);
    2. tidak masuk kerja 2 (dua) hari berturut-turut dalam satu bulan atau 6 (enam) hari tidak berturut-turut dalam 3 (tiga) bulan tanpa surat keterangan atau tanpa pemberitahuan/penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan;
    3. 3 (tiga) kali secara berturut-turut atau 6 (enam) kali tidak berturut-turut dalam 1 (satu) bulan datang terlambat atau pulang lebih awal tanpa pemberitahuan;
    4. 3 (tiga) kali secara berturut-turut atau 6 (enam) kali tidak berturut-turut dalam 1 (satu) bulan meninggalkan pekerjaan dan tempat kerja (tidak berada di tempat) pada jam kerja lebih dari 1 (satu) jam tanpa izin atasan;
    5. dengan sengaja melakukan tindakan mengotori seperti mencoret dan sejenisnya pada ruangan tempat kerja dan/atau seluruh aset milik Yayasan dan/atau aset yang berada di lingkungan Yayasan dan STIE Surakarta;
    6. tidak mempergunakan alat-alat keselamatan dan kesehatan kerja dalam melaksanakan tugasnya yang mewajibkan hal tersebut, meskipun sudah ditegur/diperingatkan minimal 2 (dua) kali secara lisan oleh atasan Pegawai;
    7. menolak perintah yang layak dari atasannya dan/atau tidak melaksanakan tugas tambahan; atau
    8. dengan sengaja tidak mengikuti rapat atau pertemuan yang telah diagendakan dan diberitahukan tanpa alasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan 3 (tiga) kali dalam 1 (satu) semester.

 

 

                                                                                                              Pasal 93

PELANGGARAN TINGKAT III (KETIGA)

  1. Pelanggaran tingkat III (ketiga) merupakan pelanggaran kategori berat.
  2. Kepada Pegawai yang melakukan pelanggaran tingkat III (ketiga) akan diberikan surat peringatan II (kedua)  oleh  atasan  Pegawai  minimal  setingkat  kepala  Jurusan  atau  pembantu  Ketua  yang
    ditembuskan kepada Bagian Administrasi Umum dan Keuangan dan dicatat dalam buku pembinaan Pegawai.
  3. Pemberian surat peringatan II (kedua) berakibat sebagai berikut:
    1. penundaan kenaikan gaji berkala selama 6 (enam) bulan;
    2. penundaan kenaikan pangkat/golongan berkala selama 6 (enam) bulan; dan
    3. pengurangan bonus tahunan sebesar 35% (tiga puluh lima per seratus) dari jumlah yang seharusnya diterima.
    4. Pelanggaran tingkat III (ketiga) apabila Pegawai melakukan tindakan sebagai berikut:
      1. tidak mengindahkan surat peringatan I (pertama);
      2. pengulangan  atas pelanggaran tingkat I      (pertama) di mana peringatan sebelumnya masihberlaku;
      3. menolak perintah atasan terkait dengan tugas pokok dan fungsinya dan melalaikan kewajiban yang harus dilakukannya;
      4. 4 (empat) kali secara berturut-turut atau 8 (delapan) kali tidak berturut-turut dalam 1 (satu) bulan datang terlambat atau pulang lebih awal awal tanpa pemberitahuan;
      5. 4 (empat) kali secara berturut-turut atau 8 (delapan) kali tidak berturut-turut dalam 1 (satu) bulan meninggalkan pekerjaan dan tempat kerja (tidak berada di tempat) pada jam kerja lebih dari 1 (satu) jam tanpa izin atasan;
      6. tidak melaporkan segala macam bentuk kehilangan atau penemuan yang seharusnya dilaporkan pada atasan; atau
      7. berkali-kali berada di luar lingkungan tempat kerja dan dalam waktu kerja tanpa ada instruksi tugas/pekerjaan yang diberikan kepada Pegawai bersangkutan.

 

                                                                                                              Pasal 94

PELANGGARAN TINGKAT IV (KEEMPAT)

 

  1. Pelanggaran tingkat IV (keempat) merupakan pelanggaran kategori berat.
  2. Kepada Pegawai yang melakukan pelanggaran tingkat IV (keempat) akan diberikan surat peringatanIII  (ketiga) oleh Ketua yang ditembuskan kepada Bagian Administrasi Umum dan Keuangan dandicatat dalam buku pembinaan Pegawai.
  3. Pemberian surat peringatan III (ketiga) berakibat sebagai berikut:
    1. penundaan kenaikan gaji berkala selama 1 (satu) tahun.
    2. penundaan kenaikan pangkat/golongan berkala selama 1 (satu) tahun;
    3. penundaan kenaikan jabatan fungsional selama 1 (satu) tahun; demosi
    4. pengurangan bonus tahunan sebesar 50% (lima puluh per seratus) dari jumlah yang seharusnya diterima.

 

 

 

 

  1. Pelanggaran tingkat IV (keempat) apabila Pegawai melakukan tindakan sebagai berikut:
    1. tidak mengindahkan surat peringatan II (kedua);
    2. pengulangan atas pelanggaran tingkat II (kedua) di mana peringatan sebelumnya masih berlaku;
    3. tidak  hadir  selama 5 (lima)  hari  kerja  berturut-turut  tanpa  kabar/penjelasan  yang  dapatdipertanggungjawabkan;
    4. setelah 3 (tiga) kali berturut-turut Pegawai tetap menolak untuk menaati perintah atau penugasan sesuai dengan uraian kerja dari atasan langsung;
    5. dengan sengaja mengakibatkan dirinya dalam keadaan tidak dapat menjalankan pekerjaan yang diberikan kepada Pegawai bersangkutan;
    6. menggunakan  atau  memindahkan  atau  meminjamkan  barang-barang  milik  Yayasan  untukkepentingan pribadi tanpa seijin atasan/Yayasan;
    7. menghilangkan atau merusak barang-barang milik Yayasan dengan sengaja sehingga barang tersebut tidak dapat dipergunakan sesuai dengan fungsinya atau menjadi berkurang fungsinya;
    8. melakukan tindakan-tindakan negatif yang mengandung unsur SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan)  dan/atau  melanggar  norma-norma  yang  berlaku  di  masyarakat  dan/atau ketentuan hukum yang berlaku;
    9. melakukan tindakan yang menguntungkan diri sendiri atau pihak lain yang mengakibatkan kerugian pada pihak Yayasan atau pun STIE Surakarta; atau
    10. melakukan  pelanggaran-pelanggaran  lain  yang  tidak  dapat  disebutkan  satu  persatu  dalam ketentuan ini akan tetapi yang menurut sifat dan akibatnya dapat merugikan Yayasan, baik secara materiil maupun nama dan/atau citra baik Yayasan.

 

                                                                                                              Pasal 95

PELANGGARAN TINGKAT V (KELIMA)

 

  1. Pelanggaran tingkat V (kelima) merupakan pelanggaran kategori sangat berat.
  2. Kepada Pegawai yang melakukan pelanggaran tingkat V (kelima) akan diberikan skorsing ataupemutusan hubungan kerja sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
  3. Pelanggaran tingkat V (kelima) apabila Pegawai melakukan tindakan sebagai berikut:
    1. tidak mengindahkan surat peringatan III (ketiga);
    2. pengulangan atas pelanggaran tingkat III (ketiga) di mana peringatan sebelumnya masih berlaku;
    3. terlibat dalam penyalahgunaan zat-zat psikotropika, narkotika, tindakan asusila dan terlibat ataupun melakukan tindakan pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang;
    4. membuat isu-isu yang bertujuan untuk mengadu domba yang mengakibatkan perpecahan antar sesama pegawai, dan atau membuat pemufakatan yang bertujuan untuk menjatuhkan atau merusak nama nama Yayasan, ketua Yayasan, dan/atau Ketua;
    5. melakukan perbuatan menghasut dan/atau menggerakkan Pegawai lainnya atau pihak mana pun untuk  mengadakan  unjuk  rasa  atau  kegiatan  lainnya  yang  merugikan  Yayasan  atau  pun masyarakat lainnya; atau
    6. membongkar atau membocorkan rahasia Yayasan kepada pihak lain.

 

                                                                                                              Pasal 96

PEMBERIAN SANKSI DEMOSI DAN SANKSI GANTI RUGI

  1. Sanksi demosi dapat diberikan terhadap pelanggaran tingkat III (ketiga) sampai dengan IV (keempat) sesuai dengan kebijakan Yayasan dengan pertimbangan yang seksama.
  2. Sanksi ganti rugi dapat diberikan terhadap pelanggaran tingkat I (pertama) sampai dengan V (kelima) sesuai dengan kebijakan Yayasan dengan pertimbangan yang seksama.

 

 

                                                                                                              Pasal 97

PELANGGARAN KODE ETIK

 

  1. Pelanggaran kode etik dapat dikategorikan sebagai pelanggaran ringan hingga sangat berat.
  2. Sanksi   terhadap   pelanggaran   kode   etik   tenaga kependidikan   dapat   diberikan   denganpertimbangan yang seksama.
  3. Sanksi terhadap pelanggaran kode etik Dosen dapat diberikan atas rekomendasi Senat.

 

                                                                                                              Pasal 98

PELANGGARAN LAIN

 

Sanksi untuk jenis pelanggaran, termasuk pelanggaran atas ketentuan internal Yayasan, yang belum tercantum/tidak termasuk dalam jenis pelanggaran tingkat I (pertama) sampai dengan V (kelima), akan ditentukan sesuai kebijakan Yayasan dengan memperhatikan dasar tindak disiplin sebagaimana diatur dalam Peraturan Kepegawaian ini dengan mengindahkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

 

                                                                                                              Pasal 99

PROSEDUR PEMERIKSAAN

  1. Sebelum menjatuhkan sanksi, pejabat yang berwenang mempelajari dengan teliti hasil pemeriksaan serta wajib memperhatikan dengan seksama faktor- faktor yang menyebabkan pelanggaran disiplin oleh Pegawai.
  2. Pemeriksaan harus dilakukan oleh pejabat yang berwenang memberikan sanksi.
  3. Pemeriksaan dihadiri oleh Pegawai bersangkutan, pejabat berwenang dan saksi bila diperlukan harus dibuat dalam bentuk berita acara.
  4. Pegawai yang diduga melakukan pelanggaran disiplin, dipanggil untuk diperiksa oleh pejabat yang berwenang atau oleh pejabat lain yang ditunjuk olehnya, dengan lisan atau apabila tidak hadir maka panggilan dilakukan secara tertulis, selama 2 (dua) kali panggilan berturut-turut.
  5. Apabila Pegawai bersangkutan tidak memenuhi panggilan kedua, hal tersebut tidak menghalangi penjatuhan sanksi.
  6. Pegawai   yang   diperiksa   wajib   menjawab   segala   pertanyaan   yang   diajukan   oleh   pejabat berwenang/tim pemeriksa. Apabila tidak mau menjawab pertanyaan atau mempersulit pemeriksaan, maka dianggap mengakui pelanggaran disiplin yang disangkakan kepadanya.
  7. Berita acara pemeriksaan ditandatangani oleh pejabat pemeriksa, Pegawai yang diperiksa dan saksi. Apabila ada isi berita acara pemeriksaan yang tidak sesuai menurut Pegawai yang diperiksa, hal tersebut diberitahukan kepada pejabat pemeriksa dan pemeriksa wajib memperbaikinya.
  8. Apabila Pegawai yang diperiksa menolak menandatangani berita acara pemeriksaan, maka cukup ditandatangani oleh pemeriksa dan saksi (bila ada), dan menyebutkan dalam berita acara bahwa Pegawai yang diperiksa menolak penandatangan tersebut.
  9. Apabila dipandang perlu, pejabat berwenang menghukum dapat meminta keterangan mengenai atau yang menyangkut pelanggaran disiplin dari orang lain. Hal demikian untuk melengkapi keterangan dan menjamin objektivitas.
  10. Usulan penjatuhan sanksi disampaikan pejabat yang berwenang disertai bukti- bukti dan berita acara pemeriksaan kepada Yayasan melalui Ketua, untuk selanjutnya diproses sesuai peraturan yang berlaku.

 

                                                                                                           Pasal 100

PERTIMBANGAN DALAM PENENTUAN JENIS SANKSI

 

  1. Dalam menentukan jenis sanksi yang akan dijatuhkan, harus mempertimbangkan dengan seksama bahwa sanksi yang dijatuhkan tersebut setimpal dengan pelanggaran yang dilakukan, sehingga sanksi itu dapat diterima dengan rasa keadilan.
  2. Kepada Pegawai yang pernah dijatuhi sanksi tertentu dan kemudian melakukan kesalahan yang sifatnya sama, terhadapnya dijatuhi sanksi yang lebih berat dari sanksi sebelumnya.

 

                                                                                                            Pasal 101

KEBERATAN ATAS SANKSI

 

  1. Pegawai yang dijatuhi sanksi dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada Ketua dalamjangka  waktu         7  (tujuh)  hari terhitung  tanggal  yang  bersangkutan  menerima  keputusan  sanksitersebut.
  2. Ketua wajib menyampaikan kepada atasan pejabat yang berhak memberikan sanksi dalam jangkawaktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja terhitung mulai tanggal diterimanya surat keberatantersebut.
  3. Pejabat yang berwenang memberikan sanksi wajib memberikan tanggapan atas keberatan yangdiajukan,  diberikan  secara  tertulis  dalam  jangka  waktu       3        (tiga)  hari  kerja  terhitung  sejakpemberitahuan atas keberatan tersebut.
  4. Atasan pejabat yang berwenang memberikan sanksi, wajib mengambil keputusan atas keberatanyang  diajukan  dalam jangka  waktu     14  (empat  belas)  hari  terhitung  tanggal  diterimanya  suratkeberatan tersebut.
  5. Apabila dipandang perlu, atasan pejabat yang berwenang memberikan sanksi dapat memanggil dan mendengar   keterangan   dari   pejabat   yang   berwenang   memberikan   sanksi   atau   Pegawai bersangkutan.

 

                                                                                                           Pasal 102

BERLAKUNYA KEPUTUSAN SANKSI

 

  1. Pemberian sanksi jenis sanksi administrasi disampaikan oleh pejabat yang berhak memberikan sanksi kepada Pegawai bersangkutan dan ditembuskan kepada Bagian Administrasi Umum dan Keuangan untuk dicatat dalam buku pembinaan Pegawai.
  2. Pemberian sanksi selain sanksi administrasi disampaikan oleh Ketua kepada Pegawai bersangkutan dalam bentuk surat keputusan pemberiansanksi dan ditembuskan kepada Bagian Administrasi Umum dan Keuangan untuk dicatat dalam buku pembinaan Pegawai.
  3. Sanksi berlaku satu hari setelah ditetapkan dalam surat keputusan pemberian sanksi

 

                                                                                                           Pasal 103

WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB PEMBERIAN SANKSI

 

  1. Prosedur sanksi Pegawai pada dasarnya melalui usulan secara berjenjang/bertingkat dari bawah ke atas dan selanjutnya ditetapkan dari atas.
  2. Pejabat yang berwenang menjatuhkan sanksi selain sanksi administrasi adalah Ketua atas laporan berjenjang sebagaimana diatur dalam Peraturan Kepegawaian ini atas ijin Yayasan.

 

BAB XI

PENGAKHIRAN HUBUNGAN KERJA &
PEMBERHENTIAN DALAM JABATAN

 

                                                                                                           Pasal 104

PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA

 

  1. Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), Yayasan akan bertindak dengan mengacu padaketentuan dalam Peraturan Kepegawaian dan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang berlaku.
  2. Berakhirnya hubungan kerja antara Yayasan dengan Pegawai dapat dikarenakan hal-hal sebagainberikut:
    1. Pegawai meninggal dunia;
    2. Pegawai mengundurkan diri;
    3. berakhirnya perjanjian kerja waktu tertentu;
    4. pegawai tidak memenuhi syarat pada masa percobaan;
    5. pegawai tidak mencapai prestasi kerja yang ditetapkan Yayasan;
    6. masa sakit yang berkepanjangan;
    7. ketidakmampuan bekerja karena alasan kesehatan;
    8. pemberhentian umum;
    9. pemberhentian karena Pegawai telah mencapai usia pensiun (purna tugas);
    10. pemberhentian akibat melakukan pelanggaran tingkat V (kelima);
    11. pemberhentian  karena  Pegawai  melakukan  tindak  pidana,  baik  di  dalam  maupun  di  luar hubungan kerja dengan Yayasan; atau
    12. PHK karena alasan-alasan lain sesuai dengan pertimbangan Yayasan.

 

                                                                                                           Pasal 105

PEGAWAI MENINGGAL DUNIA

 

  1. Meninggalnya Pegawai mengakibatkan hubungan kerja berakhir dengan sendirinya.
  2. Dalam hal Pegawai meninggal dunia, maka Yayasan akan memberikan santunan duka cita sesuai dengan ketentuan internal Yayasan.
  3. Apabila seorang Pegawai diberhentikan/diadakan PHK karena meninggal dunia akan diberikan pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak sesuai UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

 

 

 

                                                                                                           Pasal 106

PEGAWAI MENGUNDURKAN DIRI

 

Pegawai dapat mengajukan pengunduran diri kepada Yayasan sesuai dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. mengajukan permohonan pengunduran diri secara tertulis kepada Yayasan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum waktu pengunduran yang dimaksud. Pengecualian jangka waktu pengajuan pengunduran diri tersebut dapat dilakukan setelah mendapatkan persetujuan secara tertulis dari atasan dengan mempertimbangkan kepentingan Yayasan;
  2. pengunduran diri harus atas sepengetahuan dari atasan langsung Pegawai yang bersangkutan;
  3. pegawai melakukan serah terima pekerjaan yang menjadi kewajibannya, menyerahkan kembalibarang,  inventaris  dan  lainnya milik  Yayasan,  serta  hal-hal  yang  dianggap  penting  dan  perludiselesaikan;
  4. tidak terlibat hutang piutang dengan Yayasan dan telah menyelesaikan ikatan dinas bagi Pegawai yang menjalani ikatan dinas;
  5. dalam hal Pegawai belum dan/atau tidak menyelesaikan seluruh kewajiban sebagaimana dinyatakan dalam huruf (a), (b), (c) dan (d) di atas, maka Pegawai tidak berhak atas surat keterangan kerja dan Yayasan memiliki kewenangan untuk menyelesaikan masalah tersebut;
  6. Dalam hal pengunduran diri Pegawai telah memenuhi ketentuan-ketentuan sebagaimana dinyatakan dalam huruf (a), (b), (c) dan (d) di atas, maka Pegawai yang bersangkutan berhak atas uang pisah sebesar uang penghargaan masa kerja sesuai UU RI No. 13 tahun 2003;
  7. Apabila seorang Pegawai tidak masuk kerja selama lima hari kerja secara berturut-turut tanpa alasan yang sah atau tidak masuk akal dan telah dipanggil secara tertulis namun tidak memenuhi panggilan sebanyak  dua  kali, maka  Pegawai  tersebut  dianggap  mengundurkan  diri  dan  Yayasan  dapat memproses pemutusan hubungan kerja. Kepada Pegawai tersebut diberikan uang pisah sebesar 50% (lima puluh per seratus) dari uang penghargaan masa kerja sesuai UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; dan
  8. Hal-hal  lain  yang  belum  diatur/penambahan/perubahan  akan  diatur  dalam  ketentuan  Yayasantersendiri.

 

                                                                                                            Pasal 107

BERAKHIRNYA PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU

 

  1. Berakhirnya perjanjian kerja waktu tertentu adalah sebagaimana dinyatakan dalam perjanjian kerja waktu tertentu atau tanggal pengunduran diri oleh Pegawai dalam hal PHK dilakukan sebelum berakhirnya perjanjian kerja waktu tertentu.
  2. Dengan berakhimya perjanjian kerja waktu tertentu, Yayasan tidak berkewajiban untuk memberikan imbalan/pesangon di luar hal-hal yang tercantum dalam perjanjian kerja waktu tertentu.

 

                                                                                                           Pasal 108

PEGAWAI TIDAK MEMENUHI SYARAT PADA MASA PERCOBAAN

  1. Selama dalam masa percobaan, Yayasan berhak sewaktu-waktu untuk melakukan PHK dengan Pegawai apabila Pegawai dianggap tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan Yayasan.
  2. Ketentuan mengenai penetapan persyaratan sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) mengacu pada Peraturan Kepegawaian yang berlaku.
  3. PHK atas dasar sebagaimana dinyatakan dalam pasal ini tidak disertai dengan pemberian imbalan apa pun atau pesangon serta surat keterangan kerja, kecuali upah sampai dengan hari terakhir Pegawai bekerja setelah diperhitungkan dengan kewajiban/hutang Pegawai kepada Yayasan apabila ada.
  4. Hal-hal lain yang belum disebutkan akan merujuk pada ketentuan internal Yayasan.

 

                                                                                                           Pasal 109

PEGAWAI TIDAK MENCAPAI PRESTASI KERJA YANG DITETAPKAN YAYASAN

 

  1. Pegawai yang tidak dapat mencapai prestasi kerja seperti yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Yayasan walaupun telah dibina, dapat dikenakan tindakan PHK.
  2. Untuk pelaksanaan administratif PHK, Yayasan berpedoman pada ketentuan internal Yayasan.
  3. PHK  atas  dasar  sebagaimana  dinyatakan  dalam  pasal  ini,  kepada  Pegawai  yang  diberhentikan/diadakan PHK sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu), akan diberikan pesangon, uang pengharga-
    an masa kerja, dan uang penggantian hak sesuai UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

 

                                                                                                           Pasal 110

KETIDAKMAMPUAN BEKERJA KARENA ALASAN KESEHATAN

 

  1. Seorang Pegawai yang karena kesehatannya dipandang tidak mampu bekerja, dapat diberhentikan dengan hormat dari pekerjaannya. Namun pada prinsipnya Pegawai yang tidak dapat melakukan pekerjaan karena faktor kesehatan, tidak dapat dikenakan PHK selama masih dalam batas-batas yang ditentukan oleh Yayasan.
  2. Untuk  pelaksanaan  administratif  PHK,  Yayasan  berpedoman  kepada  ketentuan  perundang-undangan.
  3. Seorang   Pegawai   yang   tidak   dapat  melakukan  tugasnya   karena   masih   dalam   perawatan dokter/rumah   sakit,   pembayaran   upahnya   ditentukan   sebagaimana   diatur   dalam   Peraturan Kepegawaian ini.
  4. Pegawai yang mengundurkan diri atau diberhentikan dengan hormat karena faktor kesehatan yang dikuatkan dengan surat keterangan dokter, Yayasan memberikan hak-hak pekerja sesuai dengan UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

 

                                                                                                           Pasal 111

MASA SAKIT YANG BERKEPANJANGAN

  1. PHK terhadap Pegawai dapat dilakukan dalam hal Pegawai sakit berkepanjangan yang telah melampaui 12 (dua belas) bulan di mana hal tersebut dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang sah dan dapat diterima oleh Yayasan.
  2. Untuk pelaksanaan administratif PHK, Yayasan berpedoman pada ketentuan Yayasan.
  3. Pegawai yang mengundurkan diri atau diberhentikan dengan hormat karena faktor kesehatan yang dikuatkan dengan surat keterangan dokter untuk masa sakit yang tidak dapat ditentukan lamanya lebih dari sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu), Yayasan memberikan hak-hak pekerja sesuai dengan UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

 

                                                                                                           Pasal 112

PEMBERHENTIAN UMUM

 

  1. Atas  prakarsa  Yayasan  dengan  adanya  suatu  program  penggabungan/peleburan/reorganisasi/rasionalisasi atau pengubahan sistem kerja yang mengakibatkan Pegawai tidak dapat melaksanakan tugas  dan  tanggungjawabnya,  maka  Pegawai  yang  bersangkutan  dapat  diberhentikan  dengan hormat oleh Yayasan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
  2. Untuk pelaksanaan administratif PHK, Yayasan berpedoman pada ketentuan internal Yayasan.
  3. Pemutusan hubungan kerja sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu), Yayasan akan memberikan pesangon sesuai UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

 

                                                                                                           Pasal 113

PEMBERHENTIAN KARENA PEGAWAI TELAH MENCAPAI USIA PENSIUN

 

  1. Batas usia pensiun Pegawai tetap ditetapkan 55 (lima puluh lima) tahun untuk Tenaga kependidikan, dan antara 55 (lima puluh lima) sampai dengan 65 (enam puluh lima) tahun dan dapat diperpanjang sampai 70 (tujuh puluh) untuk Dosen sesuai jabatan fungsional yang dimilikinya.
  2. Pengecualian bagi Pegawai yang dinilai Yayasan memiliki kecakapan atau keahlian khusus dan terbukti berkelakuan baik, berprestasi kerja baik, serta sejauh tenaganya masih dibutuhkan untuk kepentingan dan kesanggupan Yayasan serta kemampuan fisik Pegawai yang bersangkutan, maka Pegawai  tersebut  dapat  dipertimbangkan  untuk  dipekerjakan  kembali  sebagai  Pegawai.  Masa perpanjangan tersebut tidak diperhitungkan sebagai tambahan masa kerja yang bersangkutan.
  3. Ketentuan  mengenai  PHK  karena  Pegawai  telah  mencapai  batas  usia  pensiun  sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu), akan diatur dalam ketentuan internal Yayasan.
  4. Apabila seorang Pegawai diberhentikan/diadakan PHK karena usia lanjut/alamiah akan diberikan pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian sesuai UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

 

                                                                                                           Pasal 114

PEMBERHENTIAN KARENA PELANGGARAN TATA TERTIB/INDISIPLINER

  1. Yayasan dapat memutuskan hubungan kerja dengan setiap Pegawai yang melakukan pelanggaran tingkat V (kelima). Untuk pelanggaran tingkat V (kelima), PHK tidak perlu melalui proses surat peringatan.
  2. Ketentuan mengenai tingkat pelanggaran diatur dalam Peraturan Kepegawaian ini.
  3. Terhadap Pegawai yang melakukan pelanggaran tingkat V (kelima) sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu), diberikan uang pisah sebesar 25% (dua puluh lima per seratus) dari uang penghargaan masa kerja sesuai UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

 

                                                                                                           Pasal 115

PEMBEBASAN TUGAS SEMENTARA (SKORSING)

 

  1. Yayasan dapat melakukan pembebasan tugas sementara terhadap seseorang Pegawai karena:
    1. sebagai jenis sanksi yang diberikan karena melakukan pelanggaran tingkat V (kelima) atau pelanggaran kode etik;
    2. menunggu keputusan final karena diduga melakukan pelanggaran sangat berat atau pelanggaran kode etik; atau
    3. berada dalam tahanan yang berwajib karena diduga telah melakukan pelanggaran dan persoalan tersebut berhubungan langsung dengan Yayasan.
    4. Selama masa pembebasan tugas sementara, upah dibayarkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
    5. Pembebasan tugas sementara dapat diperpanjang dan selanjutnya diproses berdasarkan hasil pemeriksaannya, dan apabila terbukti bertindak salah akan di-PHK dengan diberikan hak-haknya sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku, dan apabila tidakbterbukti berbuat salah akan direhabilitasi.

 

                                                                                                            Pasal 116

UANG PESANGON, UANG PENGHARGAAN,
DAN UANG PENGGANTIAN HAK AKIBAT PHK

 

Pegawai tetap yang dikenakan pemutusan hubungan kerja (PHK) diberikan uang pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak sesuai dengan ketentuan yayasan.

 

                                                                                                           Pasal 117

PEMBAYARAN PESANGON

 

  1. Pembayaran pesangon dilaksanakan serendah-rendahnya sesuai ketentuan perundang-undanganyang berlaku.
  2. Pembayaran pesangon akan diperhitungkan dengan kewajiban keuangan Pegawai kepada Yayasandan/atau kewajiban lainnya yang menjadi tanggung jawab Pegawai yang bersangkutan.
  3. Pembayaran pesangon dilaksanakan dengan memotong PPh pasal 21 sesuai dengan ketentuanyang berlaku.
  4. Uang tunjangan hari tua yang dicadangkan oleh Yayasan yang dimasukkan dalam asuransi atau bank akan diperhitungkan ke dalam pembayaran pesangon.

 

BAB XII

PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL

 

                                                                                                           Pasal 118

JENIS- JENIS PERSELISIHAN

  1. Perselisihan hak adalah perselisihan yang terjadi karena tidak dipenuhinya hak-hak kepegawaian, akibat adanya perbedaan pelaksanaan atau penafsiran terhadap perundang-undangan, perjanjian kerja, atau peraturan Yayasan.
  2. Perselisihan kepentingan adalah perselisihan yang timbul dalam hubungan kerja karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pembuatan, dan/atau perubahan syarat-syarat kerja yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, atau peraturan Yayasan.
  3. Perselisihan pengakhiran hubungan kerja adalah perselisihan yang timbul karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pengakhiran hubungan kerja yang dilakukan oleh salah satu pihak.

 

                                                                                                           Pasal 119

TATA CARA PENYELESAIAN PERSELISIHAN HAK DAN KEPENTINGAN

 

  1. Perselisihan dapat diselesaikan dengan cara Pegawai yang bersangkutan menyampaikan alasan-alasan yang memungkinkan terjadinya perselisihan hak atau perselisihan kepentingan kepada atasan yang  bersangkutan  dan/atau  pimpinan  untuk  ditetapkan  penyelesaiannya.  Setiap  penyelesaian permasalahan harus dibuat berita acara dan ditandatangani oleh Pegawai yang bersangkutan beserta atasan yang bersangkutan dan atau pimpinan.
  2. Apabila  permasalahan belum dapat ditetapkan penyelesaiannya, permasalahan diselesaikan dengan pimpinan Yayasan dan diupayakan penyelesaiannnya melalui perundingan bipartit secara musyawarah untuk mencapai mufakat, dan harus selesai paling lama 30 (tiga ) puluh hari kerja sejak tanggal dimulainya perundingan. Setiap perundingan harus dibuat berita acara dan ditandatangani oleh Pegawai yang bersangkutan beserta Pimpinan Yayasan.
  3. Berita acara perundingan memuat nama lengkap dan alamat para pihak; tanggal dan tempat perundingan; alasan-alasan  keputusan;  pendapat  Pegawai  yang  bersangkutan  dan  Pimpinan Yayasan; kesimpulan dan hasil perundingan; dan tanggal serta tanda tangan para pihak yang melakukan perundingan.
  4. Untuk kebaikan masing-masing pihak, perselisihan hak atau perselisihan kepentingan diselesaikan sampai dengan tingkat internal tanpa melibatkan pihak ketiga, dengan merujuk pada Peraturan Kepegawaian yang berlaku.

 

                                                                                                           Pasal 120

TATA CARA PENYELESAIAN PERSELISIHAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA

 

  1. Perselisihan wajib diupayakan penyelesaiannnya terlebih dahulu melalui perundingan bipartite secara musyawarah untuk mencapai mufakat, dan harus selesai paling lama 30 (tiga) puluh hari kerja sejak tanggal dimulainya perundingan. Setiap perundingan harus dibuat berita acara dan ditandatangani oleh Pegawai yang bersangkutan beserta Pimpinan Yayasan.
  2. Berita acara perundingan memuat nama lengkap dan alamat para pihak; tanggal dan tempat perundingan;  alasan-alasan  keputusan;  pendapat  Pegawai  yang  bersangkutan  dan  Pimpinan Yayasan; kesimpulan dan hasil perundingan; dan tanggal serta tanda tangan para pihak yang melakukan perundingan.
  3. Dalam hal perundingan mencapai kata kesepakatan, maka harus dituangkan dalam perjanjian bersama dan harus ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan dibubuhi materai. Setelah ditandatangani, perjanjian bersama tersebut didaftarkan kepada pengadilan hubungan industrial. Apabila perjanjian bersama tidak dilaksanakan oleh salah satu pihak, maka pihak yang dirugikan dapat mengajukan permohonan   eksekusi   kepada   pengadilan   hubungan   industrial   untuk mendapatkan penetapan eksekusi.
  4. Apabila   perundingan bipartit   gagal, maka Pegawai   yang   bersangkutan maupun Yayasan mencatatkan perselisihannya kepada instansi yang bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan dengan melampirkan bukti bahwa upaya-upaya penyelesaian bipartit telah dilakukan. Kemudian dilakukan penyelesaian perselisihan melalui perundingan konsiliasi (untuk perselisihan kepentingan dan PHK) atau perundingan mediasi dengan cara musyawarah yang ditengahi oleh seorang atau lebih  mediator netral,  yakni  Pegawai  instansi  pemerintah  yang  bertanggung  jawab di bidang ketenagakerjaan yang memenuhi syarat- syarat sebagai konsiliator atau mediator dengan tugas mengadakan penelitian dan sidang konsiliasi atau mediasi selambatlambatnya 7 (sepuluh) hari kerja sejak  menerima pelimpahan penyelesaian perselisihan,  yangkemudian  menyampaikan  anjuran secara tertulis kepada kedua belah pihak selambat- lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sejak sidang mediasi pertama.
  5. Pegawai  yang  bersangkutan  dan  Yayasan  harus  memberikan jawaban  secara  tertulis  kepada konsiliator/mediator yang isinya menyetujui atau menolak anjuran tertulis paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah menerima anjuran tertulis. Jika salah satu pihak tidak memberikan pendapatnya, maka dianggap menolak anjuran tersebut. Selanjutnya dalam hal salah satu pihak atau kedua belah menolak anjuran tertulis maka salah satu pihak atau kedua belah pihak dapat melanjutkan atau mengajukan gugatan penyelesaian perselisihan kepada pengadilan hubungan industrial.
  6. Gugatan yang diajukan harus melampirkan bukti Berita Acara konsiliasi atau mediasi. Gugatan oleh Pegawai yang bersangkutan atas pemutusan hubungan kerja dapat diajukan hanya dalam tenggang waktu 1 (satu) tahun sejak diterimanya atau diberitahukannya keputusan dari Yayasan.
  7. Dalam putusan pengadilan hubungan industrial ditetapkan kewajiban yang harus dilakukan dan atau hak yang harus diterima oleh para pihak atau salah satu pihak atas setiap penyelesaian perselisihan pemutusan hubungan kerja.
  8. Putusan pengadilan hubungan industrial mengenai pemutusan hubungan kerja mempunyai kekuatan hukum tetap apabila tidak diajukan permohonan kasasi kepada Mahkamah Agung dalam waktu selambat- lambatnya 14 (empat belas) hari sejak putusan dibacakan dalam siding majelis hakim atau sejak tanggal pemberitahuan putusan diterima.

 

                                                                                                           Pasal 121

PENYELESAIAN KELUHAN DAN PENGADUAN

 

  1. Pada prinsipnya setiap keluhan dan pengaduan seorang Pegawai diselesaikan dengan adil dansecepat mungkin.
  2. Setiap  keluhan  dan  pengaduan  seorang  Pegawai  sedapat  mungkin  diselesaikan  oleh  atasanlangsung Pegawai yang bersangkutan.
  3. Keluhan adalah segala sesuatu permasalahan yang dirasakan oleh Pegawai, baik yang menyangkutsyarat kerja maupun kondisi kerja.
  4. Pengaduan  adalah  bentuk  laporan  tertulis  yang  disampaikan  oleh  Pegawai  kepada  BagianAdministrasi Umum dan Keuangan, baik yang menyangkut syarat kerja maupun kondisi kerja.
  5. Proses  penyelesaian  keluhan  dan  pengaduan  akan  dilakukan  berdasarkan  ketentuan  internalYayasan.
  6. Selama proses penyelesaian keluhan/pengaduan, Pegawai harus tetap melaksanakan tugas dantanggung jawabnya.

 

 

BAB XIII

P E N U T U P

 

                                                                                                           Pasal 122

KETENTUAN PERALIHAN

 

  1. Semua Pegawai yang telah bertugas di Yayasan pada saat ditetapkannya Peraturan Kepegawaian ini adalah Pegawai yang diatur berdasarkan Peraturan ini.
  2. Penyesuaian  dan  penyelesaian  administrasi  berdasarkan  ketentuan  sebagaimana  diatur  dalamPeraturan ini dilaksanakan secara bertahap dan telah dapat diselesaikan secara menyeluruh dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak ditetapkannya Peraturan ini.
  3. Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan ini akan diatur dalam Peraturan tersendiri

 

 

                                                                                                           Pasal 123

POKOK-POKOK PELAKSANAAN PERATURAN KEPEGAWAIAN

 

  1. Yayasan berhak untuk memberikan penafsiran mengenai keseluruhan isi Peratuan Kepegawaian ini, baik dalam bab-bab, pasal-pasal, ayat-ayat maupun kata-kata sehingga dapat dihindari adanya pemaknaan ganda.
  2. Hal-hal  yang  belum  diatur  dalam  Peraturan  Kepegawaian  ini  akan  disusun  kemudian  dan ditambahkan sebagai pelengkap ke dalam Peraturan Kepegawaian ini atau merupakan peraturan pelaksanaan yang dibuat dalam bentuk ketentuan internal Yayasan dan menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak bertentangan dengan Peraturan Kepegawaian ini.
  3. Semua peraturan pelaksanaan yang mengatur tentang pelaksanaan dan/atau operasional Yayasan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan/atau belum diganti dengan peraturan yang baru berdasarkan Peraturan Kepegawaian ini.

 

                                                                                                          Pasal 124

PERATURAN PELAKSANAAN

  1. Selama belum ada Peraturan Yayasan yang baru setelah berakhirnya Peraturan Yayasan ini, ketentuan dalam Peraturan Kepegawaian ini akan tetap berlaku.
  2. Jika ada persyaratan kerja dalam peraturan ini kurang/bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, peraturan ini akan ditinjau untuk disesuaikan.
  3. Dalam  pelaksanaan  Peraturan  Kepegawaian  ini,  bila  dipandang  perlu  akan  dikeluarkan  Surat Keputusan Badan Pengurus Yayasan secara terpisah.

 

 

                                                                                                           Pasal 125

KETENTUAN PENUTUP

  1. Dengan ditetapkannya Peraturan Kepegawaian ini, maka semua peraturan yang telah dikeluarkan dan tidak bertentangan dengan Peraturan Kepegawaian ini tetap berlaku dan yang bertentangan dinyatakan tidak berlaku.
  2. Bila  dipandang  perlu,  Peraturan  Kepegawaian  ini  dapat  diubah  atau  diperbaiki  sebagaimana mestinya.
  3. Peraturan Kepegawaian ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan tidak berlaku surut.

 

 

 

Ditetapkan di Surakarta

pada tanggal

 

 

 

 

 

Ketua                                                                                  Ketua Pembina

January 2019
M T W T F S S
« May    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

E-Jurnal

E-Campus

Alumni STIES

Traffic Online

Denah Lokasi